Menelan Pil Pahit

""Maaf, saya tidak bisa melepaskan iman saya hanya demi cinta.""

4 min read

Kini kepala gadis itu mulai ditegakkan lagi karena mungkin dia merasa permintaannya diterima dengan baik oleh kedua orang tuanya dan bahkan mendapatkan sebuah support yang bagus. Sama halnya seperti aku yang mulai bisa menghirup napas dengan baik setelah tadi tempat tersengal karena pertanyaan dari Pak Samuel yang seolah-olah dia tidak mengizinkan Putri semata wayangnya memilih keyakinan yang dia inginkan. 


Namun, ketika suasana mulai sedikit melunak dan kembali lega, ada seorang pria lagi datang menghampiri kami di ruang tamu sehingga membuat suasana di ruangan ini kembali tegang. 

Menelan Pil Pahit


"Kalian memutuskan sepihak tanpa persetujuanku? Apa kalian sudah tidak menganggapku ada?" Ucapan pria itu sontak saja membuat kami bertiga langsung memandang ke arahnya.


Sekitar jarak dua meter dari arahku dia berdiri dengan tangan bersedekap di dada dan pandangan yang sangat tajam. Setelah ucapan tadi kami bertiga belum ada yang berani membuka suara karena dalam rumah ini sepertinya pria berambut putih inilah yang memegang kuasa penuh atas masing-masing anggota keluarga.


Kemudian pria itu mendekat ke arah kami atau lebih tepatnya sekarang dia akan duduk persis di samping Friska. Mungkin Friska dan kedua orang tuanya pun merasakan hal yang sama sepertiku yaitu gugup dan takut.


"Kau! Siapa namamu?" tanyanya dengan tangan yang menunjuk ke arahku.


"Saya Zuhayr, Kek," jawabku sedikit gugup. 


Ya, pria itu tidak lain adalah kakek dari Friska. Sebenarnya ini bukan kali pertama kami bertemu, tetapi di pertemuan sebelumnya kita hanya saling sapa tanpa mengenal nama.


"Nah, Zuhayr, kamu tadi berbicara apa dengan orang tua Friska sekarang bicarakan lagi denganku." Perkataan kakeknya Friska kini membuat nyaliku menciut lagi seperti sebelum tadi aku mengatakan pada Pak Samuel.


Namun, dengan mengumpulkan keberanian aku pun mengulang apa niatku datang ke rumah ini.


"Bukankah dalam agamamu tidak memperbolehkan menikah jika kalian berbeda keyakinan?" tanya Kakek Friska dengan nada menyindir dan tatapan mengintimidasi.


Sementara aku masih membeku mendengarkan apa yang dia tanyakan padahal aku sudah tahu jawabannya, tetapi aku belum berani bicara karena rasa gugup yang menguasai diri ini masih lebih besar dari kepercayaan diri yang aku miliki.


"Kenapa, Zuhayr? Apa kamu nggak bisa jawab?" Padahal baru beberapa detik lalu dia melontarkan pertanyaan sebelumnya. Kenapa sekarang sudah bertanya lagi dan langsung menganggap aku tidak bisa menjawab pertanyaan yang sebelumnya.


Sebenarnya rasa takut ini memang masih menguasai diri tetapi karena ini sudah menyangkut kepercayaan dan imanku aku tidak bisa tinggal diam. "Di dalam agama saya lelaki muslim boleh menikahi perempuan non muslim."


"Tapi Kakek, Friska memang sudah ingin ikut dengan kepercayaan Bang Zuhayr. Ini bukan karena cinta sama kamu semua, tapi sejak lama sebelum mengenal dia, aku memang sudah ingin masuk Islam." Sebuah kalimat yang diucapkan oleh Friska membuatku semakin mempercayai jika gadis itu memang benar-benar mencintaiku dan mencintai Islam, tentu saja.


Karena dengan begini aku merasa tidak sendirian memperjuangkan cinta kami melainkan ada Friska yang juga ikut dalam perjuangan cinta ini.


"Jangan berpindah keyakinan hanya karena dibutakan oleh cinta pada makhluk Tuhan, Friska," kata kakeknya Friska lagi seolah memang dia menganggap Friska itu terpengaruh olehku dan ingin berpindah keyakinan karena cinta kami.


"Benar, Kakek. Saya tidak memaksa agar Friska untuk berpindah keyakinan sama dengan saya. Saya juga akan tetap menerima jika Friska memang ingin tetap pada keyakinannya saat ini atau misal pun Kakek tidak memperbolehkan Friska untuk berpindah keyakinan. Saya akan tetap mencintai dan ingin menikah dengannya." Aku masih terus saja ingin mempertahankan argumenku dan keyakinanku jika kami memang bisa bersatu apa pun keyakinan kami. Sebab bagiku, perbedaan adalah sebuah kesempurnaan.


Sementara ketika aku, Friska, dan Kakek berargumen dan saling melempar pembelaan satu sama lain, kedua orang tua Friska hanya bisa terdiam. Sepertinya mereka berdua memang tidak bisa berkata apa pun dan tidak bisa membela kami ketika sang kakek sudah berbicara dan memutuskan.


Meskipun begitu, ini cinta kami dan kami akan perjuangkan sebisa yang kami mampu.


"Akan tetapi, bagaimana jika saya yang tidak mengizinkan adanya pernikahan berbeda keyakinan?" Kakek melemparkan sebuah pertanyaan lagi.


"Makanya kakek izinin aku buat pindah keyakinan biar aku dan Bang Zuhayr tidak berbeda." Lagi dan lagi Friska menguatkan argumenku dengan ucapannya.


"Bagaimana jika saya memberikan sebuah penawaran yang cukup seimbang dengan permintaan kalian dan juga tidak mengubah prinsip saya?" 


Kalimat tanya itu membuatku semakin penasaran, tetapi ada sebuah rasa tidak enak di dalam hati ini. Entah apa itu dan apa penawaran yang akan pria tua ini berikan membuat aku semakin tidak bisa berpikir apa yang nanti akan aku ucapkan lagi.


"Apa itu, Kek?" tanya Friska yang terlihat sangat tidak sabar untuk segera mendengar apa yang kakeknya tawarkan, begitu juga dengan aku dan mungkin rasa yang sama dirasakan oleh kedua orang tua Friska.


"Bagaimana jika kamu saja yang berpindah pada keyakinan kami, Zuhayr? Dengan begitu maka prinsip saya akan terselamatkan dan cinta kalian akan disatukan." 


Dua kalimat tadi membuatku naik pita dan rasa marah menguasai hati dan pikiran. Namun, aku tetap mencoba untuk meredamnya dan tidak ingin meluapkan kemarahan ini di depan kedua orang tua beserta kakeknya Friska. 


Rasa syok tentu saja menghampiri karena sesuatu hal yang tidak mungkin dilakukan, malah dibuat sebagai penawaran atas cintaku dan Friska tentu ini tidak adil bukan?


"Maaf, saya tidak bisa melepaskan iman saya hanya demi cinta." 


"Lihat, Friska, bahkan dia tidak ingin memperjuangkanmu." Kakeknya Friska ini terlihat seperti sedang membuat aku dan Friska dalam dilema. Mungkin dia sudah tahu sebelumnya jika aku tidak akan melepaskan imanku demi sebuah cinta dan tentu saja dia juga tidak akan melepaskan Friska untuk berpindah keyakinan menjadi sama denganku. 


Kali ini gadis cantik yang sudah satu tahun menjadi kekasihku itu hanya bisa terdiam dan menunduk mungkin dia kecewa denganku atau dengan kakeknya.


"Bukannya saya tidak ingin berjuang demi Friska, Kakek, tetapi jika Tuhan saya memperbolehkan untuk menikah dengan gadis non muslim mengapa saya harus melepaskan iman saya demi menikahi gadis itu?" Sampai saat ini aku masih mencoba tegar, meskipun dalam hati aku merasa sangat berat mengucapkan hal itu. 


Aku sampai kapanpun tidak akan terlepaskan sebuah keimanan demi apa pun di dunia ini.


"Kenapa Kakek nggak bolehin jika aku menikah sama Bang Zuhayr, entah itu dengan berpindah keyakinan atau nggak?" Friska kini mulai membuka suara meski dengan bibir yang bergetar seolah sedang merasakan kesakitan yang teramat sangat. Mungkin sekarang yang dirasakan sama seperti apa yang aku rasakan. Sakit.


"Jika memang kamu tidak setuju maka pergilah."

Posting Komentar