Birokrasi Perjodohan: Saat Rekan Kantor Lebih Sibuk Cari Calon Daripada Berkas
Bekerja di bagian administrasi sekolah itu sebenarnya
tenang, sampai tiba waktunya jam istirahat atau saat pekerjaan sedang agak
longgar. Di momen itulah, meja saya yang biasanya penuh dengan tumpukan berkas
laporan, mendadak berubah fungsi menjadi Meja Pendaftaran Jodoh Massal.
Tanpa diminta, tanpa ada surat tugas resmi, rekan-rekan kerja saya—terutama para senior berubah profesi menjadi Agen Intelijen Perjodohan.
1. Database Calon yang "Over-Capacity"
Rekan kerja saya punya kemampuan luar biasa dalam menyimpan data. Bukan data inventaris kantor, tapi data siapa saja anak, sepupu, atau tetangga mereka yang masih jomblo.
"Sepwal, ini ada foto anaknya teman Ibu. Orangnya rajin, sudah kerja di bank, pinter masak lagi. Mau Ibu kenalin?"
Seketika, saya merasa seperti sedang ditawari aplikasi baru yang belum saya butuhkan. Saya yang sehari-hari bertugas memvalidasi data, malah disuguhkan data "calon" yang bahkan spesifikasinya tidak pernah saya minta di sistem hati saya. Lucunya, mereka lebih hafal update status orang lain daripada update regulasi terbaru dari pusat.
2. Verifikasi yang Super Ketat
Yang lebih satir adalah proses verifikasinya. Para agen perjodohan ini bertindak seolah-olah mereka adalah tim asesor akreditasi. Mereka menanyakan hobi saya, rencana masa depan saya, sampai kriteria pasangan saya—semuanya dicatat dalam "buku besar" ingatan mereka untuk dicocokkan dengan kandidat yang tersedia.
Kalau saya jawab ingin fokus berkarya dulu sebagai penulis dan YouTuber, responnya seragam: "Halah, nulis-nulis gitu kan bisa sambil berdua. Nanti kalau sudah umur 30 baru nyari, datanya sudah kedaluwarsa lho!" Rasanya ingin sekali saya membalas, "Mohon maaf, Bu, status lajang saya ini bukan bug sistem, ini fitur untuk menjaga produktivitas." Tapi tentu saja, sebagai penganut Stoikisme, saya lebih memilih tersenyum simpul sambil menyesap kopi hitam saya.
3. "Connection Timeout" di Setiap Pertemuan
Pernah dalam sebuah acara kantor, saya sengaja didekatkan dengan salah satu "kandidat unggulan" mereka. Suasananya canggung luar biasa. Bayangkan, dua orang asing dipaksa berinteraksi di bawah pengawasan sepuluh pasang mata yang berharap ada "sinyal koneksi" yang muncul.
Hasilnya? Tentu saja Connection Timeout. Sinkronisasi gagal total karena frekuensi kami tidak nyambung. Saya bicara soal filosofi hidup dan teknik editing video, dia bicara soal cicilan motor dan gosip terbaru. Di titik itu saya sadar, jodoh itu bukan soal siapa yang paling cepat di-input ke sistem, tapi soal kecocokan algoritma yang tidak bisa dipaksakan oleh pihak ketiga.
4. Amor Fati: Mencintai Status "Solo Player"
Menjelang usia 30, tekanan ini memang makin kencang. Tapi saya belajar untuk Amor Fati—mencintai takdir saya hari ini. Menjadi seorang admin, penulis, dan kreator konten sudah cukup menyita waktu dan energi saya.
Saya tidak ingin melakukan deployment (pernikahan) hanya karena didesak oleh birokrasi sosial atau karena takut dicap sebagai "laporan yang tidak laku". Saya lebih baik menunggu sampai menemukan pasangan yang benar-benar bisa diajak "berkolaborasi", bukan sekadar "terdaftar" di kartu keluarga.

Posting Komentar