30 Tahun Lebih Sedikit, Kopi Hitam, dan Seni Menunda Kecewa

Daftar Isi

Tiga puluh. Angka yang buat banyak orang terdengar seperti alarm tanda bahaya, tapi buat saya, ini cuma soal pergantian session di database umur.

Tiga puluh tahun lebih sedikit. Angka yang sering bikin orang lain lebih panik daripada saya sendiri. Pertanyaannya selalu sama, polanya monoton "Kapan undangannya?", "Sudah punya apa?", atau Nggak kesepian?. Seolah-olah hidup ini punya checklist yang kalau nggak dicentang semua, berarti kita error.

Gila, ya? Padahal hidup nggak sebercanda itu.

Filosofi di Balik Gelas Pahit

Setiap pagi, sebelum tumpukan map cokelat di meja kantor mulai menyerang, saya selalu punya ritual menyeduh kopi hitam Pekat. 

Tanpa gula sama sekali. Kenapa? Karena hidup sudah terlalu banyak janji manis yang akhirnya basi. Kopi pahit itu jujur. Dia nggak pura-pura enak di awal terus bikin kecewa di akhir.

Sama halnya dengan menjadi staf administrasi sekaligus penulis buku Philophobia dan Irreplaceable Love. Pekerjaan saya menuntut validasi kertas, tapi jiwa saya butuh validasi rasa. 

Di usia ini, saya sadar kalau kecewa itu bukan untuk dihindari, tapi untuk dikelola. Kita nggak bisa nyetop hujan, tapi kita bisa milih buat nggak basah kuyup.

Itulah seni menunda kecewa. Menaruh ekspektasi di tempat yang paling rendah, supaya saat realita datang menghantam, kita masih bisa berdiri sambil menyesap kopi.

Kepulan Asap Surya 

Ada ketenangan yang aneh saat saya menyulut sebatang Surya di sela-sela waktu istirahat. Asapnya melayang, hilang, persis kayak masalah-masalah birokrasi yang bikin pusing kepala. Di momen itu, saya cuma seorang Solo Player. Menikmati kesendirian bukan sebagai hukuman, tapi sebagai kemewahan.

Saya penganut Amor Fati. Mencintai takdir, segetir apa pun rasanya. Kalau takdir saya hari ini adalah menjadi juru stempel masa depan orang lain sementara masa depan saya sendiri masih dalam tahap maintenance, ya nggak masalah. Toh, di balik kaku-nya meja TU, saya tetap bisa membangun Sepwal AI Studio. Saya tetap bisa merangkai kata.

Identitas yang Jujur

Nama @sepwalv adalah janji saya ke diri sendiri. Saya nggak mau lagi sembunyi di balik gelar atau instansi. Saya adalah admin yang mahir bahasa kode hehe canda, sekaligus penulis yang paham bahasa rindu.

Tiga puluh tahun lebih sedikit ini bukan soal seberapa cepat kita sampai ke pelaminan atau puncak karier. Ini soal seberapa kuat kita bertahan dengan prinsip sendiri di saat dunia maksa kita buat jadi orang lain.

Jadi, buat kamu yang juga lagi berjuang di meja yang sunyi, jangan buru-buru kecewa. Seduh kopinya, nyalakan rokokmu, dan nikmati narasinya. Karena cerita yang paling bagus biasanya punya bab yang paling berliku.

Posting Komentar