Kenapa Database Jodoh Saya Selalu Gagal di Detik Terakhir?

Daftar Isi

Dalam dunia kerja, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat progress bar unggahan data yang sudah menyentuh angka 99%, lalu tiba-tiba muncul tulisan merah besar: "Connection Timeout. Please Try Again." 

Tapi bagi saya, sensasi menyakitkan itu sudah jadi makanan sehari-hari, bukan di layar monitor, melainkan di dalam kehidupan asmara. Di usia 30 an lebih sedikit, saya merasa sistem pencarian jodoh saya sedang mengalami gangguan server massal yang tidak kunjung usai.

1. Spek Dewa, Koneksi Setengah Jiwa

Sering kali, para Agen Intelijen kantor menyodorkan kandidat yang katanya punya spek High-End. Orangnya baik, rajin ibadah, dan yang paling penting mau sama pria yang hobi duduk diam di depan tumpukan berkas.

Secara teori, ini adalah Match yang sempurna. Algoritmanya sudah pas. Namun, begitu masuk ke tahap pendekatan atau "Ping", masalah mulai muncul. Saya kirim pesan "Sudah makan?" (pertanyaan paling klise dalam sejarah database manusia), balasannya datang tiga hari kemudian. Ini bukan lagi soal jodoh, ini soal latency jaringan yang lebih parah daripada internet di pelosok saat musim hujan.

2. Terjebak di Captcha Kehidupan

Kadang saya merasa dunia sedang menguji apakah saya benar-benar manusia atau cuma robot admin yang diprogram untuk mencetak surat. Setiap kali bertemu orang baru, saya seolah harus melewati verifikasi Captcha yang rumit.

"Pilih gambar yang menunjukkan masa depan yang mapan," kata keadaan. Saya klik gambar "Penulis Buku", salah. Saya klik gambar "YouTuber", gagal verifikasi. Saya klik gambar "Admin Sekolah dengan Tumpukan Berkas", eh... malah dianggap spam.

Ternyata, membuktikan kalau kita adalah pria yang punya "perasaan" jauh lebih sulit daripada membuktikan kalau kita bukan robot di situs pendaftaran CPNS.

3. Topik Pembicaraan Not Found

Pernah saya dipaksa bertemu (lagi) dengan seorang kandidat unggulan. Di sana saya duduk, menyesap kopi hitam dengan anggun, mencoba membuka percakapan yang berbobot.

Saya mulai bicara soal buku terbaru saya, berbicara soal filosofi Stoikisme, atau soal teknik transisi video yang sinematik. Responnya? Dia cuma bengong sambil mainin sedotan, lalu bertanya, Kak, kalau benerin printer yang tintanya meluber gimana ya?

Seketika, muncul notifikasi di dahi saya: Error 404. Conversation Not Found. Frekuensi kami benar-benar tidak berada di jalur kabel fiber optik yang sama. Dia di jalur analog, saya sudah di jalur cloud computing. Sinkronisasi gagal total.

4. Mencintai Internal Server Error

Setelah berkali-kali mengalami timeout, saya sampai pada titik kebijaksanaan tertinggi ala Marcus Aurelius. Jika server jodoh sedang down, ya sudah. Tidak perlu saya banting modemnya, tidak perlu saya maki-maki penyedia jasanya.

Saya cukup menyalakan sebatang Surya, menatap kepulan asapnya, dan bergumam, "Amor Fati. Mungkin sistem semesta sedang melakukan maintenance besar-besaran agar saat jodoh itu datang, tidak ada lagi bug berupa mantan yang tiba-tiba chat atau drama-drama tidak penting lainnya."

Saya lebih baik fokus memoles "tampilan antarmuka" diri saya sendiri. Memperbaiki bug kesabaran, menambah kapasitas memori keikhlasan, dan memastikan firewall hati saya kuat menghadapi pertanyaan-pertanyaan menyebalkan dari bibi-bibi di acara kondangan.

Klik Refresh Saja

Jadi, kalau kamu bertanya kenapa saya masih sendiri menjelang usia 30, jawabannya simpel: Sistem lagi sibuk. Saya tidak sedang jomblo, saya cuma sedang dalam mode Offline untuk menghemat daya energi kreatif saya. Daripada memaksakan koneksi yang lemot dan penuh gangguan, lebih baik saya menikmati kecepatan tinggi saat berkarya sendirian.

Toh, seburuk-buruknya Connection Timeout di urusan asmara, masih lebih mending daripada Connection Timeout pas lagi input laporan akhir tahun yang sudah mepet deadline. Betul, tidak?

Posting Komentar