Ketika Meja Kerja Berubah Jadi Meja Mak Comblang

Daftar Isi

Di kantor, tugas resmi saya adalah mengelola dokumen, memastikan arsip rapi, dan melayani keperluan administrasi lainnya. Namun, ada satu jabatan tidak resmi yang dipegang oleh beberapa rekan kerja saya terutama mereka yang sudah senior yaitu sebagai Kepala Badan Intelijen Perjodohan.


Tanpa perlu pengumuman resmi, meja kerja saya sering kali berubah menjadi markas besar pencarian kandidat. Di antara tumpukan berkas yang harus saya stempel, sering kali terselip berkas lain berupa foto profil WhatsApp atau cerita tentang anak teman yang sholehah.

1. Operasi Pengumpulan Data (Surveillance)

Para agen intelijen ini punya cara kerja yang sangat rapi. Mereka tidak langsung bertanya Kapan nikah?. Mereka memulai dengan observasi lapangan. Mereka memperhatikan cara saya berpakaian, cara saya menyeduh kopi hitam, hingga seberapa sering saya terlihat termenung menatap layar monitor.

Pak Sepwal ini orangnya tenang ya, pasti penyabar. Cocok ini kalau sama si A, bisik mereka di pojok ruangan.

Dalam kacamata satir, saya merasa seperti sedang diaudit. Bedanya, yang diaudit bukan kelengkapan berkas kantor, melainkan kelayakan saya sebagai calon menantu idaman versi mereka. Mereka mengumpulkan data tentang kebiasaan saya lebih cepat daripada sistem pusat memproses laporan bulanan.

2. Database yang Tidak Terbatas

Kekuatan utama para agen ini adalah database mereka yang melampaui batas wilayah. Mereka punya info tentang siapa saja yang baru lulus kuliah, siapa yang baru pindah tugas ke kota ini, hingga siapa yang hobinya sama dengan saya (menurut asumsi mereka).

Meja saya yang tadinya steril dari urusan pribadi, tiba-tiba kedatangan tamu-tamu yang membawa "laporan pandangan mata". "Tadi Ibu ketemu sama anaknya Pak Haji di pasar, kayaknya cocok sama kamu. Orangnya rajin ke masjid juga."

Saya cuma bisa mengangguk sopan sambil menarik napas dalam-dalam. Di dalam hati, saya membayangkan betapa hebatnya jika sistem database kantor kami seakurat dan secepat informasi perjodohan yang mereka miliki.

3. Interogasi Berkedok Makan Siang

Momen makan siang sering kali berubah menjadi sesi interogasi. Sambil menawarkan lauk, mereka mulai menyelipkan pertanyaan-pertanyaan strategis.

 

"Sepwal, tipe kamu yang gimana sih? Yang penting seagama dan mau diajak hidup sederhana kan?"

Seketika, nafsu makan saya tersinkronisasi dengan rasa ingin cepat-cepat kembali ke tumpukan berkas. Menghadapi barisan angka di layar komputer terasa jauh lebih menenangkan daripada menghadapi barisan pertanyaan tentang kriteria pasangan hidup yang bahkan saya sendiri masih sering mempertimbangkannya.

 

4. Pertahanan Stoik: Senyum adalah Algoritma Terbaik

Bagaimana cara saya bertahan dari kepungan para agen intelijen ini? Tentu saja dengan gaya Stoik. Saya menyadari bahwa niat mereka sebenarnya baik, mereka peduli (meski dengan cara yang agak memaksa). Menolak dengan kasar hanya akan menciptakan error dalam hubungan kerja.

Jadi, saya memilih untuk mencintai situasi ini sebagai bumbu rutinitas. Saat mereka mulai gencar melakukan promosi "kandidat", saya cukup menyalakan sebatang Surya, menyesap kopi, dan memberikan jawaban paling aman sedunia:mohon doanya saja supaya sistemnya segera sinkron dengan takdir.

Saya tidak membiarkan ketenangan batin saya terganggu oleh "interupsi data" yang mereka bawa. Bagi saya, jodoh bukanlah dokumen yang bisa dipaksakan untuk segera ditandatangani. Jodoh punya waktunya sendiri, dan biarlah para agen itu sibuk dengan tugasnya, sementara saya tetap sibuk menjaga kewarasan di balik meja kerja.

Admin Tetaplah Admin

Biarlah meja kerja saya punya fungsi ganda. Selama laporannya beres dan stempelnya basah, saya tidak keberatan dianggap sebagai "proyek masa depan" oleh rekan-rekan senior.

Menjadi target perjodohan adalah risiko pekerjaan yang harus dinikmati dengan segelas kopi hitam. Setidaknya, saya tahu bahwa di mata mereka, saya adalah "berkas berharga" yang layak diperjuangkan untuk segera mendapatkan pengesahan dari penghulu.

Posting Komentar