Kolektor Undangan Saat Nama Orang Lain Selalu Ada di Stempel, Tapi Nama Sendiri Masih Draft

Daftar Isi

Pernah nggak sih kamu ngitung, sudah berapa ratus atau mungkin ribuan lembar dokumen yang mendarat di meja kamu cuma buat minta pengakuan? Di dunia administrasi, stempel itu adalah kunci segalanya. Tanpa bunyi gedubrak dari stempel yang saya tekan kuat-kuat itu, selembar kertas nggak bakal punya kuasa apa-apa.

Tapi ada satu ironi yang sering bikin saya senyum kecut sendiri pas lagi jam istirahat. Saya ini Dewa Stempel buat urusan masa depan orang lain. Saya melegalkan dokumen alumni yang mau lanjut kuliah, saya memvalidasi berkas rekan kerja yang mau naik pangkat, tapi pas giliran urusan pengesahan hati sendiri? 

Statusnya masih saja Draft. Nggak bergerak, nggak berubah, cuma tersimpan rapi di folder paling pojok yang jarang dibuka.

Kolektor Undangan Saat Nama Orang Lain Selalu Ada di Stempel, Tapi Nama Sendiri Masih Draft

Pajak Kondangan dan Dompet yang Kena Mental

Masuk musim bulan-bulan baik, meja kantor saya bukan cuma penuh sama map cokelat, tapi mulai disisipi amplop-amplop cantik dengan wangi parfum yang kadang terlalu menyengat. Isinya? Tentu saja undangan.

Kadang saya mikir, jadi admin sekolah itu merangkap jadi donatur tetap prasmanan se-kabupaten. Nama saya selalu ada di daftar tamu, tapi nggak pernah ada di sampul depan sebagai pemeran utama. Ini namanya Pajak Kondangan sebuah pengeluaran wajib yang lebih pasti datangnya daripada kenaikan gaji atau kabar jodoh itu sendiri.

Saya liat nama-nama yang tertera di sana. Kadang itu nama alumni yang dulu sering minta tolong urus berkas, atau rekan sejawat yang baru setahun duduk di sebelah meja saya. Mereka sudah Deployment ke jenjang pelaminan, sementara saya? Saya masih sibuk melakukan Troubleshooting pada perasaan sendiri yang sering banget kena error kalau ngeliat harga kado yang makin nggak masuk akal.

Filosofi Kursi Kosong dan Kopi yang Mendingin

Pas kondangan, biasanya saya pakai jurus Stoikisme tingkat dewa. Saya duduk di kursi paling pojok, sebisa mungkin nggak narik perhatian para tante -tante yang mata intelijennya lebih tajam dari scanner kantor. Saya nikmatin saja hidangannya, sambil sesekali ngebayangin: Kok bisa ya, orang-orang ini nemuin kecocokan sistem secepat itu?

Balik dari kondangan, saya biasanya nggak langsung pulang. Saya mampir dulu ke warung biasa, pesen kopi hitam pahit. Sambil nyalain sebatang Surya, saya mandangin amplop undangan yang tadi saya bawa. Di sana, tertulis nama saya dengan rapi. Tapi ya cuma itu, sekadar nama tamu.

Saya ngerasa kayak berkas yang statusnya cuma  Read Only. Orang bisa liat, orang bisa baca, tapi nggak ada yang bisa (atau mau) ngedit isinya buat dijadiin masa depan. Ngenes? Mungkin. Tapi ya itu, Saya mencintai takdir saya yang jadi saksi kebahagiaan orang lain dulu. Mungkin server semesta lagi nyiapin kertas undangan yang jenisnya premium buat saya nanti, jadi proses cetaknya agak lama.

Masih Nyaman di Mode Preview

Buat sekarang, saya nggak mau ambil pusing. Biarlah nama saya terus-terusan muncul di tumpukan undangan sebagai tamu. Saya lebih baik jadi Draft yang berkualitas, penuh revisi biar makin sempurna, daripada jadi Undangan yang buru-buru dicetak tapi isinya penuh salah ketik (typo) di sana-sini.

Tugas saya besok masih banyak. Masih banyak berkas orang lain yang butuh stempel saya. Dan selama tinta stempel saya masih basah, dan stok Surya saya masih ada, hidup ini rasanya masih cukup adil buat dijalani.

Urusan kapan nama saya ada di posisi mempelai? Ah, biarin saja jadi misteri sistem. Saya mau lanjut ngopi dulu. Pahitnya kopi ini jauh lebih jujur dari pada basa-basi kapan nyusul yang barusan saya denger di Pesta tadi.

Posting Komentar