Koleksi Buku vs Koleksi Undangan

Daftar Isi

Ada sebuah komedi tragis yang terjadi ketika seorang pria menginjak usia tiga puluh tahun lebih sedikit dan memutuskan untuk menjadi lebih pintar daripada teman sebaya di sekitarnya. Di saat orang lain sibuk berburu vendor pelaminan atau mencicil perabotan rumah tangga, saya justru sibuk berburu pemikiran Marcus Aurelius dalam Filosofi Teras atau membedah rahasia kekayaan lewat The Psychology of Money.

Masalahnya adalah, semakin banyak saya membaca, semakin saya merasa menjadi alien di tengah kerumunan keluarga besar. Saya ini ibarat perpustakaan berjalan yang sayangnya tidak punya pengunjung tetap. Saya paham betul teori tentang bagaimana mengendalikan emosi, tapi begitu tante saya bertanya Kapan nyusul?, semua teori Stoikisme saya mendadak reboot dan menyisakan senyum pasrah yang sangat menyedihkan.

Psikologi Uang vs Psikologi Uang Panai

Mari kita bicara jujur. Saya sudah khatam membaca The Psychology of Money. Saya tahu betul bahwa kekayaan itu adalah apa yang tidak kita lihat, dan menabung itu adalah urusan ego. Tapi, coba jelaskan teori itu kepada keluarga besar yang sedang menuntut saya untuk segera mengeluarkan modal besar buat pesta semalam.

Di mata mereka, Psikologi Uang itu sederhana: "Simpan uangmu buat lamaran, titik." Sementara bagi saya, uang itu lebih baik dipakai untuk membeli kedamaian batin lewat tumpukan buku baru. Saya sering menertawakan diri saya sendiri saat menyadari bahwa saya sangat ahli mengatur arus kas di atas kertas, tapi arus kas saya selalu bocor setiap kali mencium bau toko buku. Saya lebih rela saldo rekening saya berkurang demi satu jilid buku berkualitas daripada harus berkurang demi membayar katering untuk orang-orang yang bahkan tidak tahu judul buku terakhir yang saya baca.

Inilah sisi lucu dari pria 30-an ini,  Saya tahu cara kerja dunia finansial global, tapi saya tidak tahu cara kerja finansial pernikahan yang logikanya sering kali melawan hukum gravitasi saku saya sendiri.

Ahli Gesture yang Gagal Membaca Kode

Lalu ada lagi buku soal Gesture atau bahasa tubuh. Saya membacanya dengan sangat teliti. Saya tahu arti dari setiap kerutan dahi, posisi tangan, sampai arah mata seseorang. Saya merasa seperti detektif yang bisa membaca pikiran orang. Tapi, inilah komedi tertingginya, Di usia segini, saya bisa membaca bahasa tubuh seorang politisi di TV, tapi saya tetap saja buta saat ada lawan jenis yang memberikan kode halus di dunia nyata.

Saya menertawakan diri saya sendiri karena sering terjebak dalam analisa yang terlalu dalam. Saat ada seorang wanita tersenyum pada saya, otak saya yang sudah terkontaminasi buku psikologi ini malah sibuk berpikir: Apakah ini senyum asli atau sekadar reaksi sosial berdasarkan norma kesopanan? Begitu saya selesai menganalisa, orangnya sudah pulang, dan saya tetap saja pulang sendiri sambil membawa buku.

Saya adalah pria yang punya semua teori tentang bagaimana membangun relasi, tapi prakteknya? Saya lebih sering membangun relasi dengan karakter-karakter mati di dalam buku. Saya lebih paham bagaimana cara menjaga integritas diri daripada cara menjaga perasaan orang lain agar tidak tersinggung saat saya bilang saya lebih suka menghabiskan malam minggu dengan membaca daripada kencan.

Stoikisme Perisai Jomblo Terhormat

Buku Filosofi Teras benar-benar menjadi penyelamat nyawa saya setiap kali acara kumpul keluarga. Berkat buku itu, saya jadi tahu bahwa pertanyaan "Kapan nikah?" adalah hal yang berada di luar kendali saya. Saya tidak perlu marah, saya tidak perlu sedih, saya cukup menerima kenyataan bahwa tante saya punya hobi bertanya hal yang sama setiap tahun.

Tapi ya, tetap saja lucu melihat diri sendiri menggunakan prinsip Stoikisme untuk hal-hal yang sangat receh. Saat semua sepupu saya pamer foto bayi mereka di grup keluarga, saya meresponsnya dengan kutipan tentang ketenangan jiwa. Saya menertawakan fakta bahwa saya lebih bangga pamer bahwa saya sudah menyelesaikan 10 buku tahun ini daripada pamer bahwa saya sudah punya calon.

Di mata masyarakat, saya ini adalah "produk gagal" yang mencoba membela diri pakai filosofi kuno. Mereka melihat saya sebagai pria yang menunda-nunda kehidupan nyata demi dunia di dalam buku. Padahal, bagi saya, dunia di dalam buku itulah yang membuat saya tetap waras. Saya lebih memilih menunda kecewa dengan cara memperdalam ilmu daripada terburu-buru bahagia tapi isinya kosong karena saya belum selesai dengan diri saya sendiri.

Menertawakan Takdir di Antara Tumpukan Kertas

Setiap malam, saya duduk sendirian, dikelilingi oleh buku-buku yang sudah saya baca. Ada rasa bangga yang campur aduk dengan rasa ngenes. Saya merasa sangat kaya secara intelektual, tapi miskin secara sosial. Saya menertawakan diri saya sendiri sebagai pria usia tiga puluh lebih sedikit yang kalau bangun tidur, hal pertama yang dicari bukan pesan manis dari pasangan, melainkan pembatas buku yang tertinggal di halaman terakhir semalam.

Saya mencintai takdir saya sebagai pengamat hidup lewat lembaran kertas. Saya sadar kalau saya ini ibarat manual book yang sangat tebal menarik untuk dipelajari, tapi orang lebih memilih barang yang langsung pakai tanpa perlu baca instruksi. Dan saya tidak keberatan dengan itu.

Kebahagiaan saya bukan lagi soal validasi dari lingkungan, tapi soal seberapa banyak pemikiran baru yang bisa saya serap hari ini. Kalau takdirnya memang masih harus jalan sendiri, setidaknya saya jalan dengan otak yang penuh referensi. Masalah jodoh? Mungkin suatu saat semesta akan mengirimkan seseorang yang juga paham The Psychology of Money, supaya kami tidak bertengkar soal anggaran beli buku tiap bulan.


Antara Titik Terakhir dan Bab Baru

Pada akhirnya, saya harus jujur pada diri sendiri Menjadi pria 30-an yang lebih akrab dengan aroma kertas daripada aroma bunga melati di pelaminan bukanlah sebuah kesalahan teknis. Ini hanyalah sebuah pilihan untuk tidak memaksakan sebuah cerita berakhir sebelum konfliknya benar-benar selesai.

Mungkin bagi dunia, saya adalah perpustakaan yang berdebu penuh teori tapi minim aksi. Tapi bagi saya, jauh lebih baik menjadi buku yang sulit dipahami daripada menjadi lembaran brosur yang habis dibaca langsung dibuang. Saya tidak sedang menunda kebahagiaan, saya hanya sedang memastikan bahwa saat saya benar-benar dibaca oleh orang lain nanti, saya sudah menjadi sebuah karya yang utuh, bukan sekadar draf kasar yang penuh dengan coretan kesalahan masa lalu.

Jadi, untuk kalian yang masih sering bertanya "Kapan?", silakan lanjut bertanya. Saya akan tetap di sini, duduk manis dengan buku di tangan, mencoba membedah rahasia semesta sambil menunggu takdir mengirimkan seseorang yang minimal tidak akan meminta saya menjual koleksi buku saya demi membayar cicilan gedung pernikahan.

Kesimpulan dari perjalanan "Solo Player" saya di usia kepala tiga ini sebenarnya sangat sederhana:

  1. Ilmu adalah Perisai: Mempelajari Filosofi Teras atau Psychology of Money mungkin tidak langsung mendatangkan jodoh, tapi setidaknya membuat saya tetap tenang (dan tetap punya uang) saat badai tekanan sosial menerjang.
  2. Kualitas di Atas Kecepatan: Pernikahan bukan balapan lari. Lebih baik terlambat deployment dengan sistem yang stabil daripada buru-buru rilis tapi hidup penuh dengan error dan penyesalan.
  3. Amor Fati: Mencintai takdir berarti mencintai setiap detik kesendirian sebagai kesempatan untuk bertumbuh. Menjadi "produk belum valid" di mata tetangga adalah harga kecil yang harus dibayar untuk menjadi pribadi yang valid di mata sendiri.

Hidup ini adalah narasi yang saya tulis sendiri. Dan untuk saat ini, bab tentang Kesendirian  masih jauh lebih menarik untuk dinikmati daripada bab Pernikahan karena Terpaksa. Saya adalah penulisnya, saya adalah pembacanya, dan sejauh ini, saya sangat menyukai plot ceritanya.

Posting Komentar