Tragedi Masterchef Gadungan, Mencoba Mandiri Sebelum Janur Kuning Melengkung
Ada sebuah ambisi konyol yang biasanya muncul saat seorang pria mulai sering ditanya "Kapan?". Ambisi itu adalah membuktikan kepada dunia terutama kepada Ibu dan tante-tante di grup WhatsApp bahwa kita sudah siap. Dan bagi saya, siap itu artinya saya harus bisa mengurus diri sendiri, dimulai dari tempat paling berbahaya di rumah Dapur.
Di usia yang sudah sangat matang ini, saya sempat berpikir bahwa memasak adalah skill bertahan hidup yang akan membuat saya terlihat sangat karismatik.
Bayangkan, seorang pria lajang yang bisa membuat Masakan yang hampir sempurna hahahah atau minimal nasi goreng yang tidak gosong.
Tapi realitanya? Saya adalah bukti nyata bahwa niat baik tidak selalu berbanding lurus dengan rasa makanan.
Drama di Depan Kompor dan Sayuran yang Terabaikan
Minggu lalu, saya mencoba membuat sesuatu yang terlihat berkelas demi konten kemandirian. Saya pergi ke Minimarket, berdiri lama di depan rak bumbu, dan merasa sangat dewasa saat memilih antara merica putih atau merica hitam. Saya merasa seperti pria mapan yang sedang mempersiapkan diri untuk membangun rumah tangga yang harmonis.
Namun, begitu sampai di dapur, semua bayangan indah itu menguap bersama asap dari penggorengan yang terlalu panas. Saya baru sadar bahwa memotong bawang bombay ternyata jauh lebih sulit daripada memotong pembicaraan orang yang tanya kapan saya nikah.
Mata saya perih, air mata mengalir, dan dalam hati saya membatin Ini saya nangis karena bawang, atau karena sedih melihat nasib saya yang masih masak sendirian ya?
Hasil akhirnya? Sebuah masakan yang warnanya sulit dijelaskan secara logika estetika. Niat hati ingin membuat menu sehat ala restoran, yang jadi malah nasi yang teksturnya lebih mirip bubur tapi ada bagian yang keras.
Di sinilah sisi lucu yang sering saya tertawakan, Saya punya uang untuk beli peralatan masak, punya energi untuk belanja, tapi tetap saja remedial dalam urusan rasa.
Saya adalah pria yang punya perlengkapan perang lengkap tapi tidak tahu cara menarik pelatuknya.
Minimarket Labirin Harga Diri Pria Lajang
Menertawakan diri sendiri saat belanja mingguan adalah hobi baru saya. Ada semacam komedi tragis saat saya berdiri di lorong sabun cuci piring dan detergen.
Saya menghabiskan waktu lima belas menit hanya untuk membandingkan mana sabun yang lebih irit dan wangi, seolah-olah penghematan dua ribu rupiah itu akan langsung menambah saldo tabungan mahar saya secara signifikan.
Saya sering merasa diperhatikan oleh ibu-ibu di sekitar. Mungkin mereka berpikir, Kasihan pria ini, belanja sendirian, wajahnya bingung membedakan mana lengkuas dan mana jahe.
Dan mereka benar. Saya adalah pria yang bisa mengambil keputusan besar dalam hidup, tapi mendadak lumpuh hanya karena harus memilih mana santan kemasan yang paling bagus.
Puncak komedinya adalah saat saya sampai di kasir. Di depan saya ada keluarga kecil yang keranjang belanjanya penuh dengan susu anak dan popok. Sementara di keranjang saya?
Isinya hanya mie instan, telur, dan satu ikat bayam yang saya sendiri tidak tahu mau diapakan nanti. Saya merasa seperti sebuah produk yang drafnya sudah selesai, tapi belum layak cetak karena isinya masih berantakan.
Kemandirian yang Hanya Sampai di Pintu Depan
Banyak orang bilang, pria yang bisa mengurus rumah itu adalah idaman. Maka saya pun mencoba rajin. Saya mencuci baju sendiri, menyetrika sendiri (meskipun hasilnya tetap kusut), dan mencoba merapikan kasur setiap pagi. Tapi tetap saja, ada yang hilang.
Ada rasa hambar yang luar biasa saat Anda berhasil memperbaiki kran air yang bocor, lalu Anda menoleh ke belakang untuk pamer keberhasilan itu, tapi yang ada hanya tembok kosong.
Saya menertawakan fakta bahwa saya sudah sangat mahir mengurus diri sendiri, tapi kemandirian ini malah membuat saya semakin nyaman dalam kesendirian. Saya sudah terlalu pintar mengurus hidup saya, sampai saya takut keberadaan orang lain malah akan merusak keteraturan yang sudah saya bangun susah payah.
Inilah bentuk Amor Fati yang paling jujur. Saya mencintai takdir saya sebagai pria yang kalau lapar harus bertarung dulu dengan kompor. Saya mencintai kenyataan bahwa kebebasan saya dibayar dengan rasa sepi yang sesekali muncul saat mencuci piring di malam hari.
Saya tidak sedang menunda kebahagiaan, saya hanya sedang menikmati masa-masa di mana kesalahan terbesar saya hanyalah lupa memasukkan garam ke dalam masakan, bukan kesalahan dalam memilih pasangan hidup.
Kesimpulan Menikmati Kegagalan yang Manis
Pada akhirnya, hidup sebagai pria lajang yang mencoba mandiri ini adalah sebuah pertunjukan komedi yang menghibur. Saya adalah pria yang punya semua alat untuk menjadi suami idaman, tapi masih gagal di tahap uji coba paling dasar yaitu konsistensi rasa masakan.
Saya lebih memilih menertawakan takdir saya daripada harus baper setiap kali melihat foto teman-teman yang pamer masakan istrinya. Biarlah saya tetap di sini, dengan dapur yang sering berantakan dan piring yang selalu cuma satu di atas meja.
Saya tidak ingin terburu-buru menyewa koki (baca: istri) hanya karena saya bosan makan mie instan, sementara saya sendiri belum selesai belajar menghargai proses perjuangan di dapur sendiri.
Tiga puluh tahun (kurang sedikit) ini mengajarkan saya bahwa kebahagiaan itu bukan soal siapa yang menyiapkan makan malam untuk Anda, tapi seberapa keras Anda bisa menertawakan diri sendiri saat makanan yang Anda buat sendiri ternyata rasanya tidak karuan.
Masalah jodoh? Biarlah semesta yang melakukan update nanti. Saya mau fokus dulu bagaimana caranya menggoreng telur mata sapi tanpa harus membuat kuningnya pecah. Hidup memang lucu, mari kita nikmati saja porsinya!

Posting Komentar