Ketika To-Do List Pagi Sudah Mati Sebelum Jam 9
Pagi itu saya datang dengan semangat yang kalau diukur mungkin setara dengan orang yang baru minum kopi ketiga. To-do list sudah rapi. Tertulis manis di notes HP. Prioritas A, B, C. Bahkan sudah ada estimasi waktunya. Lengkap dengan tanda centang kosong yang menunggu untuk diisi dengan penuh kebanggaan.
Profesional banget, kan?
Saya bahkan sempat membayangkan versi diri saya di penghujung hari duduk santai, semua poin tercentang, wajah bersinar seperti orang yang hidupnya teratur. Mungkin sambil minum Kopi. Mungkin sambil senyum tipis penuh pencapaian.
Jam 07.58 Dua menit sebelum mimpi itu resmi runtuh.
Rapat Dadakan Sekarang
Notifikasi itu datang tanpa basa-basi. Tanpa permisi. Seperti tamu yang nggak diundang tapi langsung duduk di kursi terbaik dan minta dibuatkan minum.
Ada rapat sebentar ya, 15 menit aja.
Lima belas menit. Klasik. Saya sudah cukup umur untuk tahu bahwa 15 menit aja di lingkungan sekolah itu adalah satuan waktu yang sangat relatif bisa jadi 45 menit, bisa jadi sampai bel istirahat berbunyi, tergantung siapa yang paling banyak maunya di ruang guru dan seberapa sering topik pembicaraan melebar ke hal-hal yang sebetulnya bisa diselesaikan lewat grup WhatsApp.
Dan betul saja. Rapat itu membahas hal yang dengan segala hormat bisa disampaikan dalam tiga kalimat di grup. Tapi di sini kita duduk Melingkar,Khidmat. Seperti sedang memutuskan nasib bangsa.
Saya manggut-manggut. Wajah serius, Di dalam kepala, saya sedang menyaksikan poin pertama to-do list melambai pelan sambil pamit pergi.
Sampai jumpa ya. Semoga kamu ikhlas.
To-do list poin nomor satu? Belum disentuh. Tapi sudah resmi tertunda dengan penuh martabat.
SmartOffice Sedang Tidak Dalam Kondisi Smart
Rapat selesai. Oke. Masih bisa dikejar. Saya kembali ke meja dengan langkah penuh tekad seperti atlet yang baru keluar dari ruang ganti, siap tanding babak kedua.
Saya buka SmartOffice.
Loading.
Loading.
Error.
Saya tarik napas.
Refresh.
Loading lagi.
Gangguan sistem.
Coba beberapa saat lagi.
Baik Beberapa saat Saya tunggu. Saya refresh lagi. Hasilnya sama. Saya refresh sekali lagi karena siapa tahu kali ini alam semesta berbaik hati. Hasilnya tetap sama. Ternyata alam semesta sedang tidak dalam mood untuk berbaik hati.
Di sinilah saya berdiri atau lebih tepatnya duduk di persimpangan antara sabar sebagai bentuk ibadah dan keputusasaan sebagai bentuk manusia biasa yang punya deadline. Surat yang harusnya selesai pagi ini kini menggantung di antara server yang entah sedang ngapain. Mungkin server-nya juga punya to-do list sendiri, dan hari ini dia juga malas.
Saya tidak bisa menyalahkan dia. Saya mengerti perasaan itu.
To-do list poin kedua? Mati. Bukan ditunda, tapi mati. Dengan tenang Seperti lilin yang kehabisan sumbu.
Dihubungi Tapi Lagi Ada Acara
Satu lagi. Karena rupanya semesta belum puas dan masih punya amunisi. Ada urusan mendadak yang butuh konfirmasi dari rekan guru,Urusan penting,Tidak bisa ditunda dan Saya hubungi.
Nada sambung berbunyi panjang.
Saya kirim pesan. Centang satu.
Tunggu
Masih centang satu
Tunggu lagi
Centang dua tapi balasannya belum ada tanda-tanda kehidupan.
Hanya dua centang abu-abu yang menatap saya dengan tatapan kosong penuh ketidakpedulian.
Dia lagi ada acara di luar, mungkin belum sempat lihat HP.
Ah. Tentu. Sedang ada acara yang artinya keberadaannya secara fisik masih ada di muka bumi ini, tapi untuk urusan koordinasi, beliau sementara telah memasuki dimensi lain yang tidak bisa dijangkau oleh notifikasi manapun.
Saya tidak marah
Saya mengerti
Acara itu penting
Tapi to-do list saya juga punya perasaan.
Poin ketiga resmi masuk antrian tanpa kepastian kapan keluar
Mungkin siang
Mungkin sore
Mungkin besok
Mungkin di kehidupan selanjutnya.
Seni Menertawakan Diri Sendiri
Jam 09.00. To-do list yang tadi pagi terasa seperti peta menuju produktivitas sekarang lebih mirip prasasti peninggalan niat baik yang gugur di medan tugas.
Saya menatapnya lama,dan kemudian saya tertawa.
Bukan tawa pahit, Bukan tawa orang yang menyerah.
Tapi tawa orang yang akhirnya paham bahwa ada bagian dari pekerjaan ini yang memang tidak bisa dikendalikan, dan memilih untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri adalah bentuk kebijaksanaan yang paling murah dan paling mudah didapat.
Karena kalau dipikir-pikir lucu juga, kan? Saya bangun pagi,Mandi, Sarapan,Berangkat tepat waktu. Menyusun rencana dengan penuh kesungguhan. Lalu dalam waktu kurang dari satu jam, semua itu diacak-acak oleh rapat yang tidak ada di jadwal, sistem yang memilih hari ini untuk mogok, dan rekan yang sinyalnya lebih susah ditemukan dari pada solusi.
Saya bukan korban keadaan. Saya hanya sedang hidup di dunia administrasi sekolah di mana fleksibilitas bukan sekadar nilai tambah, tapi syarat bertahan hidup.
To-do list itu bukan gagal. Dia hanya sedang belajar beradaptasi. Sama seperti saya.
Jam 09.00 To-Do List Tinggal Kenangan Tapi Saya Masih di Sini
Besok saya akan bikin to-do list lagi. Lebih rapi. Lebih optimis. Mungkin kali ini saya tambahkan poin paling atas:
0 Ikhlaskan dulu sebelum mulai.
Dan kemungkinan besar, nasibnya akan sama. Tapi setidaknya kali ini saya sudah siap untuk tertawa duluan sebelum semesta sempat bercanda.

Posting Komentar