Di Balik Meja

Tragedi Sok Produktif Ketika Skrip Otomatisasi Justru Membuat Saya Kerja Dua Kali

Table of Contents

Sepwal, mari kita duduk melingkar dan bicarakan baik-baik isi kepala kamu yang kadang terlalu percaya diri itu.

Minggu lalu, kamu resmi dinobatkan sebagai badut utama di balik meja Tata Usaha. Semua bermula dari penyakit kronis yang sering kamu sebut sebagai "efisiensi", padahal kalau didiagnosis ulang secara jujur, nama aslinya cuma satu: malas.

Hari itu ada tumpukan rekap data massal yang kalau dikerjakan manual sambil merem sebenarnya selesai dalam dua jam. Tapi tidak, ego seorang Sepwal menolak cara-cara konvensional kaum purba. Di dalam tempurung kepala ini, kamu sudah membayangkan skenario film yang sangat keren: menulis beberapa baris skrip otomatisasi, menekan satu tombol Run, lalu duduk bersandar sambil melipat tangan di dada dengan tatapan meremehkan ke arah printer yang bekerja sendiri. Kamu bahkan sudah membayangkan wajah-wajah penuh kekaguman dari seisi kantor.

Tragedi Sok Produktif Ketika Skrip Otomatisasi Justru Membuat Saya Kerja Dua Kali

Setengah jam dipakai buat sok-sokan menulis kode. Rokok Surya sudah terselip di jari dengan gaya teatrikal, siap dibakar sebagai simbol perayaan kemenangan digital. Jari telunjuk menekan tombol eksekusi dengan penuh wibawa.

Dan di detik berikutnya, sistem semesta menunjukkan siapa bos sebenarnya.

Skrip mahakarya kamu itu ternyata mengalami looping tanpa batas, mengamuk di dalam sistem, menduplikasi baris yang salah, dan menghapus seluruh kolom identitas utama. Dalam hitungan tiga detik, database yang tadinya cuma berantakan sedikit, berubah total menjadi hamparan teks rusak penuh pesan error massal. Monitor kantor seketika terasa panas, persis seperti muka kamu yang mendadak mati rasa di depan komputer.

Niat hati ingin memangkas waktu kerja dua jam agar bisa santai ngopi, realitanya kamu justru harus menghabiskan waktu lima jam ke depan untuk mengetik manual satu per satu demi memulihkan data yang hancur karena ulahmu sendiri. Surya yang tadi dipegang dengan gaya sombong, akhirnya dibakar dalam kondisi tangan agak gemetar karena panik dikejar tenggat waktu sore.

Saat berdiri di depan cermin toilet kantor, saya cuma bisa menatap wajah sendiri sambil tersenyum getir. Hebat sekali kamu, Sepwal. Ingin terlihat seperti programmer jenius di depan monitor, tapi akhirnya berakhir seperti pekerja rodi yang lembur karena kebodohan sendiri. Kamu sedang ditertawakan oleh baris rumus buatanmu sendiri.

Kejadian hari itu adalah tamparan digital yang sangat pas untuk menyembuhkan penyakit sok tahu. Kita ini kadang terlalu sibuk mencari jalan pintas demi kepuasan ego, sampai lupa kalau jalan pintas itu sering kali belum diaspal dan penuh lubang.

Pulang kantor malam itu, dengan punggung yang pegal akibat mengetik manual lima jam nonstop, saya kembali ke ritual dasar di teras rumah. Menyeduh kopi hitam, menyalakan Surya, dan menerima kenyataan pahit bahwa musuh terbesar di balik meja kerja itu ternyata bukan sistem yang sering down atau jaringan internet sekolah yang lemot. Musuh terbesarnya adalah diri saya sendiri yang kalau malasnya lagi kumat, suka mendadak merasa lebih pintar dari takdir.

Jadi, untuk kamu yang ada di dalam cermin: besok-besok kalau mau sok produktif, pastikan dulu otaknya sudah di-refresh. Kalau memang tugasnya cuma butuh diketik manual, ketik saja. Tidak usah bertingkah seperti superhero digital kalau ujung-ujungnya cuma bikin RAM di kepala sendiri ngelag parah.

Sebab seburuk-buruknya sistem yang crash, masih jauh lebih mudah di-restore daripada harga diri seorang admin yang telanjur hancur sebelum jam pulang kantor.

Advertisement Ad Placement (responsive)
SepwaL

Writer at SEPWAL.

Komentar