Di Balik Meja

Audit Terakhir atas Kursi yang Terlipat

Audit Terakhir atas Kursi yang Terlipat
Daftar Isi

Menolak undangan yang kedua kalinya ternyata bekerja persis seperti mencabut kabel daya dari sebuah peladen using,dengung bisingnya lenyap seketika, menyisakan keheningan mutlak tanpa riak susulan.

Fadil tidak membalas lagi pesan penolakan itu. Tentu saja. Dua centang biru di aplikasi percakapan itu hanya menjadi penanda bahwa transaksi telah gagal diproses.

Di dunia orang-orang yang mengukur nilai kawan dari fungsi praktisnya, penolakan sopan adalah sinyal kedaluwarsa. Mereka tidak punya waktu untuk menganalisis mengapa seseorang mundur, mereka hanya butuh mengganti sekrup yang longgar dengan sekrup baru yang lebih patuh di pasaran.

Menjelang senja, saat seluruh staf administrasi mulai memasukkan stempel ke dalam laci dan merapikan map, saya sengaja melangkah pelan menuju jendela belakang gedung kantor.

Ada kelegaan ganjil yang merayap di dada,sebuah perasaan yang dulu tidak pernah saya kenali saat masih sibuk menjadi badut penghibur di lingkaran mereka.

Dulu, jam-jam seperti ini adalah awal dari kecemasan sosial. Pikiran dipenuhi kalkulasi remeh. baju mana yang tidak terlihat terlalu kusam untuk kedai berpendingin udara itu, berapa lembar uang kertas yang harus disisihkan di dompet agar tidak canggung saat nota pembayaran dibagikan rata di atas meja, hingga topik pembicaraan apa yang harus disiapkan agar tidak terlihat tertinggal dari pencapaian kawan-kawan yang lain.

Saya pernah menjadi orang yang rela mengecilkan volume diri sendiri hanya agar muat di dalam kotak pergaulan orang lain.

Kini, audit batin itu selesai dengan hasil nihil perkara.

Saya tidak lagi berutang cerita pada siapa pun. Jika mereka berkumpul malam ini untuk menertawakan pilihan saya yang menolak datang, atau mencap saya sebagai mantan kawan yang makin aneh dan kaku, biarlah suara itu menguap bersama aroma sirup aren yang mereka sesap.

Di luar ruang kendali pribadi saya, opini orang lain hanyalah derau latar belakang (background noise) yang tidak punya otoritas hukum atas ketenangan jiwa.

Saya keluar dengan langkah ringan. Di pos satpam depan, aroma tanah basah sisa gerimis sore menyambut hidung. Tidak ada janji temu yang memburu, tidak ada topeng keakraban yang perlu dipasang.

 

Malam ini, rute kepulangan saya sepenuhnya murni, langsung menuju kamar, menyeduh kopi hitam pekat yang tidak pernah menuntut saya menjadi orang lain, dan menyalakan layar kerja untuk menuntaskan hal-hal yang benar-benar menjadi milik saya sendiri.

Kursi plastik di kedai kopi itu boleh saja telah terlipat dan disingkirkan, tetapi untuk pertama kalinya, saya akhirnya duduk tegak di atas takhta saya sendiri tanpa rasa bersalah sedikit pun.

 

Iklan Ruang iklan responsif
SepwaL
SepwaL

Writer at SEPWAL.

Komentar