Menolak undangan yang kedua kalinya ternyata bekerja persis seperti mencabut kabel daya dari sebuah peladen using,dengung bisingnya lenyap seketika, menyisakan keheningan mutlak tanpa riak susulan.
Fadil
tidak membalas lagi pesan penolakan itu. Tentu saja. Dua centang biru di
aplikasi percakapan itu hanya menjadi penanda bahwa transaksi telah gagal
diproses.
Di dunia
orang-orang yang mengukur nilai kawan dari fungsi praktisnya, penolakan sopan
adalah sinyal kedaluwarsa. Mereka tidak punya waktu untuk menganalisis mengapa
seseorang mundur, mereka hanya butuh mengganti sekrup yang longgar dengan
sekrup baru yang lebih patuh di pasaran.
Menjelang
senja, saat seluruh staf administrasi mulai memasukkan stempel ke dalam laci
dan merapikan map, saya sengaja melangkah pelan menuju jendela belakang gedung
kantor.
Ada
kelegaan ganjil yang merayap di dada,sebuah perasaan yang dulu tidak pernah
saya kenali saat masih sibuk menjadi badut penghibur di lingkaran mereka.
Dulu,
jam-jam seperti ini adalah awal dari kecemasan sosial. Pikiran dipenuhi
kalkulasi remeh. baju mana yang tidak terlihat terlalu kusam untuk kedai
berpendingin udara itu, berapa lembar uang kertas yang harus disisihkan di
dompet agar tidak canggung saat nota pembayaran dibagikan rata di atas meja,
hingga topik pembicaraan apa yang harus disiapkan agar tidak terlihat
tertinggal dari pencapaian kawan-kawan yang lain.
Saya
pernah menjadi orang yang rela mengecilkan volume diri sendiri hanya agar muat
di dalam kotak pergaulan orang lain.
Kini,
audit batin itu selesai dengan hasil nihil perkara.
Saya
tidak lagi berutang cerita pada siapa pun. Jika mereka berkumpul malam ini
untuk menertawakan pilihan saya yang menolak datang, atau mencap saya sebagai
mantan kawan yang makin aneh dan kaku, biarlah suara itu menguap bersama aroma
sirup aren yang mereka sesap.
Di luar
ruang kendali pribadi saya, opini orang lain hanyalah derau latar belakang (background
noise) yang tidak punya otoritas hukum atas ketenangan jiwa.
Saya keluar
dengan langkah ringan. Di pos satpam depan, aroma tanah basah sisa gerimis sore
menyambut hidung. Tidak ada janji temu yang memburu, tidak ada topeng keakraban
yang perlu dipasang.
Malam
ini, rute kepulangan saya sepenuhnya murni, langsung menuju kamar, menyeduh
kopi hitam pekat yang tidak pernah menuntut saya menjadi orang lain, dan
menyalakan layar kerja untuk menuntaskan hal-hal yang benar-benar menjadi milik
saya sendiri.
Kursi
plastik di kedai kopi itu boleh saja telah terlipat dan disingkirkan, tetapi
untuk pertama kalinya, saya akhirnya duduk tegak di atas takhta saya sendiri
tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Komentar
Posting Komentar