Di Balik Meja

Laporan Akhir Tahun Tanpa Catatan Kaki

Laporan Akhir Tahun Tanpa Catatan Kaki
Daftar Isi

Satu bulan berlalu tanpa satu pun gelombang kejut di kotak masuk.

Grup percakapan lama itu akhirnya tenggelam ke dasar daftar obrolan, terkubur oleh pesan-pesan siaran tagihan listrik, konfirmasi resi paket belanja, dan koordinasi kedinasan yang membosankan namun jujur.

Di dunia komputasi batin, fenomena ini disebut Cold Storage—data lama yang dibiarkan membeku di sudut cakram keras, tidak dihapus paksa agar tidak menimbulkan eror sistem, tetapi tidak pernah lagi dimuat ke dalam memori kerja harian.

Sore ini, hujan lebat mengguyur halaman kantor. Air meluap tipis di selokan samping ruang arsip, mengetuk kaca jendela dengan ritme yang teratur dan menenangkan.

Saya sedang memeriksa draf rekapitulasi data inventaris tahunan saat salah seorang staf muda di seberang meja nyeletuk santai sembari memegang ponselnya, "Pak, tadi saya lihat di instastory, Pak Fadil sama rombongannya lagi nongkrong di kafe baru yang di pusat kota itu ya? Rame banget kelihatannya."

Saya hanya menaikkan pandangan sejenak dari atas tumpukan berkas, lalu tersenyum tipis. "Oh, iya? Baguslah kalau tempatnya nyaman."

Hanya itu. Tidak ada getaran penasaran untuk meminjam ponselnya demi melihat siapa saja yang hadir di sana. Tidak ada desakan halus di rongga dada yang menuntut jawaban apakah nama saya sempat disebut di sela-sela denting sendok mereka.

Respons emosional saya berada pada status Null. Saraf-saraf yang dulu peka terhadap rasa tertinggal rupanya telah mengalami desensitisasi total layaknya kulit jari seorang juru ketik yang mengeras setelah ribuan jam menghantam mesin tanpa henti.

Melihat orang lain bersenang-senang di orbit yang bukan milik kita tidak lagi terasa seperti ancaman. Itu hanyalah pemandangan biasa, setara dengan melihat orang asing menyeberang jalan di lampu merah: ada, nyata, namun tidak memiliki sangkut paut dengan neraca hidup saya hari ini.

Marcus Aurelius pernah berpesan di dalam catatan pribadinya: Jangan buang sisa hidupmu untuk memikirkan urusan orang lain, kecuali hal itu berkaitan langsung dengan kepentingan bersama.

Memikirkan mengapa mereka tidak mengajak kita, atau memproyeksikan tawa mereka sebagai bentuk penghinaan terselubung, hanyalah kebiasaan buruk dari pikiran yang kekurangan pekerjaan bermakna.

 

Saya kembali mengarahkan kursor ke lembar kerja di layar monitor.

Setiap angka pengeluaran dimasukkan ke dalam kolom debit, rumus saldo otomatis dikunci dengan tanda dolar agar referensinya tidak bergeser, dan dokumen ditandai dengan status akhir: Verified and Closed.

Segala urusan yang menyangkut tongkrongan lama, kursi yang terlipat, dan status sebagai seksi bantuan serabutan telah resmi dibukukan sebagai kerugian operasional masa lalu yang sudah diamortisasi habis. Tidak ada dividen emosional yang tersisa, tidak ada piutang rasa yang perlu ditagih di kemudian hari.

Saya menyesap kopi hitam dari cangkir enamel yang tinggal setengah. Rasanya tetap sama: pekat, pahit, dingin, dan murni tanpa kepura-puraan.

Di luar jendela, hujan mulai mereda menjadi tirai gerimis tipis. Kantor berangsur sunyi, menyisakan deru kipas CPU tua yang setia menemani di bawah meja.

Saya meluruskan punggung di atas kursi putar berkain beledu kusam yang mungkin tak seestetik bangku kafe modern, tetapi memiliki satu keunggulan mutlak yang tak terbantahkan: kursi ini sepenuhnya milik saya, berada di ruangan saya, dan tidak ada seorang pun di dunia ini yang memiliki hak kuasa untuk menariknya dari bawah tubuh saya.

 

Iklan Ruang iklan responsif
SepwaL
SepwaL

Writer at SEPWAL.

Komentar