Buka media sosial sebentar saja, dunia langsung terasa sesak. Semua orang berlomba-lomba jadi pemeran utama dalam film dokumenter kehidupan mereka sendiri. Ada yang pamer hustle culture kerja 25 jam sehari, ada yang bikin konten motivasi dengan muka serius di dalam mobil, sampai yang hobi mengumumkan setiap pencapaian kecil seolah-olah mereka baru saja menemukan vaksin penawar galau sedunia.
Duduk di
balik meja arsip, sambil nunggu printer yang lagi-lagi ngadat, saya sering
merenung. Kapan, sih, manusia sekecoh ini dengan validasi? Kenapa sekarang
rasanya dosa banget kalau kita cuma jadi penonton yang tenang di pinggir
lapangan?
Kutukan
Harus "Spesial"
Semua
orang sekarang didoktrin buat jadi main character. Harus beda, harus
viral, harus punya pencapaian besar sebelum umur 25, dan harus terlihat bahagia
24/7. Kalau hidupmu cuma diisi dengan berangkat kerja, ngurusin berkas, pulang,
ngopi, terus tidur, kamu bakal dicap "kurang produktif" atau "nggak
berkembang".
Lucu, ya. Padahal, kalau semua orang jadi tokoh utama, siapa yang mau jadi penontonnya?
Kalau semua orang sibuk berteriak di panggung, dunia bakal jadi
bising banget dan nggak ada lagi tempat buat sekadar tarik napas tenang.
Saya sendiri kadang mikir, apa nggak capek ya jadi orang yang harus selalu terlihat luar biasa?
Menjaga citra sempurna di depan ribuan orang asing yang bahkan
nggak peduli kalau besok kamu masuk angin.
Kemewahan
Menjadi NPC (Non-Player Character)
Dalam
dunia game, ada istilah NPC karakter figuran yang tugasnya cuma
nongkrong di pojok kota, nggak punya misi besar, tapi bikin dunia game itu
terasa hidup.
Jujur
saja, belakangan ini saya justru menemukan kedamaian luar biasa dalam posisi
sebagai "orang biasa". Menjadi NPC di panggung sandiwara internet.
- Saya nggak perlu bikin
konten joget-joget konyol demi algoritma.
- Saya nggak perlu pura-pura
tersenyum di depan kamera pas suasana hati lagi hancur.
- Saya cukup jadi admin yang
telaten, penulis buku di waktu luang, dan penikmat kopi hitam yang
tenang di pojokan ruangan.
Ada
kebebasan mutlak saat kamu memutuskan untuk berhenti jadi pusat perhatian. Kamu
nggak punya beban ekspektasi orang lain. Orang mau ngomong apa tentang hidupmu
yang "biasa-biasa saja", silakan. Toh, yang bayar kopi
dan ngelunasin tagihan hidup saya bukan mereka.
Stoikisme
di Tengah Bisingnya Validasi
Prinsip Stoikisme
ngajarin kita buat fokus pada hal yang bisa dikendalikan. Dan tebak apa? Opini
orang lain tentang seberapa "keren" hidup kita itu 100% di luar
kendali kita. Jadi, kenapa harus pusing dipikirin?
Sore tadi, pas jam kantor sudah kelar, saya milih duduk di teras depan. Nggak bikin story Instagram, nggak bikin status WhatsApp. Cuma nyalain sebatang Surya, merhatiin langit yang mulai oranye, dan ngerasain hembusan angin sore.
Sederhana? Banget. Tapi di situlah letak kemewahannya. Kebahagiaan itu nggak
perlu di-upload buat dapet engagement. Cukup dirasain sendiri, habis itu
selesai.
Pemeran
Utama di Hidup Sendiri, Figuran di Panggung Dunia
Jadi,
kalau kamu sekarang lagi ngerasa hidupmu biasa saja, nggak usah berkecil hati.
Kamu nggak harus jadi miliarder di umur 20-an atau jadi influencer terkenal
buat ngerasa hidupmu berharga.
Biarlah
orang lain sibuk berebut panggung utama. Saya lebih milih duduk di kursi
penonton yang paling nyaman, menikmati pertunjukan sambil nyeruput kopi saya
yang udah mulai dingin. Toh, di akhir hari, panggung paling penting yang harus
kita menangkan bukanlah panggung sosial media, tapi kewarasan kepala kita
sendiri.
Tetap tenang, tetap jadi orang biasa yang punya prinsip. Dunia sudah terlalu penuh sama orang penting; sesekali, dunia juga butuh orang waras yang tahu cara menikmati kesunyian.

Komentar
Posting Komentar