Di Balik Meja

Seksi Bantuan yang Lupa Diberi Kursi

Seksi Bantuan yang Lupa Diberi Kursi
Daftar Isi

Pukul delapan malam adalah jam rawan bagi orang-orang yang terlambat sadar diri. Jempol kanan saya masih memelihara kebiasaan purba membuka kunci layar, menggulir grup percakapan bernama “Sobat Santai Selamanya”, lalu menatap layar dingin itu layaknya seorang arkeolog dungu yang berharap menemukan jejak kehidupan di kawah mati.

Pesan terakhir di grup itu tercatat tiga pekan lalu, sebuah video tips diet yang bahkan tak disentuh oleh tanda jempol siapa pun. Grup itu telah membeku. Namun saya tahu persis, di semesta paralel lain, ada grup baru bernama “Sobat Santai Tanpa Beban Administrasi” di mana nama saya berhasil dideportasi secara aklamasi tanpa perlu sidang pleno.

Saya menertawakan kenaifan diri sendiri. Betapa lucunya ingatan masa lalu ketika saya dengan percaya diri mengira posisi saya di meja tongkrongan setara dengan mereka.

Jika diaudit secara jujur, portofolio sosial saya memang menyedihkan, saya  tidak punya mobil bahkan motor untuk dijadikan tumpangan rombongan, dan tidak punya kerabat berpangkat untuk dibanggakan.

Posisi riil saya di lingkaran itu hanyalah seksi perlengkapan tak bergaji, penjaga meja saat yang lain ke toilet, dan teknisi serabutan yang mendadak dicari kalau format tabel kerja mereka berantakan.

Malam kemarin, saat keluar membeli rokok kretek, saya tanpa sengaja melintas di depan kedai kopi berkonsep industrial di persimpangan jalan. Di balik dinding kaca tembus pandang, meja bundar legendaris itu tampak menyala di bawah lampu gantung estetik.

Kunci motor ditata rapi di atas meja seperti sesajen pemanggil wibawa, bersanding dengan gelas es kopi susu berpemanis aren. Di kursi plastik abu-abu yang dulu menjadi tempat duduk saya, kini duduk seorang pria baru berkemeja rapi yang tertawa lepas menyambut lelucon salah satu kawan.

Kursi saya telah resmi direlokasi ke investor baru yang prospeknya lebih menjanjikan. Saya hanyalah prosesor lawas yang sengaja dicabut karena terlalu lambat mengimbangi ambisi baru mereka.

Tiba-tiba, getaran di saku celana membuyarkan lamunan. Sisa-sisa harapan konyol di kepala sempat berbisik, "Siapa tahu mereka baru sadar kalau malam ini kurang lengkap tanpa saya."

Layar ponsel menyala, menampilkan nama Fadil

“Bro, sorry ganggu malam-malam. Format Excel buat rekap anggaran yang ada rumusnya tempo hari masih kamu simpan ga? Laptopku habis di-reset nih, butuh cepat buat besok pagi.”

Saya tertawa sendirian di pinggir jalan sampai ditegur tukang tambal ban di samping trotoar. Tentu saja. Kursi di tongkrongan boleh lenyap, tapi nomor telepon seksi bantuan jangan sampai diblokir.

Saya bukan kawan berbincang, saya adalah nomor customer care bebas pulsa yang hanya dihubungi saat pendingin ruangan mereka mendadak mati.

Jari saya mengetik balasan pendek tanpa tanda seru

“Cari di Google, bro. Ketik ‘template anggaran gratis’, pilih yang baris pertama.”

Layar langsung saya matikan. Sesampainya di rumah, saya menyalakan komputer tua yang dengung kipasnya stabil memecah hening. Cangkir enamel gompal saya isi kopi hitam pekat tanpa gula karena rasa manis dari janji pertemanan abadi sudah kedaluwarsa sejak lama.

Sebatang kretek saya bakar, menikmati tiap hisapannya di depan monitor. Ternyata, didepak dari daftar hadir pergaulan tidak seburuk itu. Saldo dompet saya selamat dari patungan traktiran orang-orang sukses, dan yang paling mahal, kewarasan saya malam ini resmi bebas tugas

 

Iklan Ruang iklan responsif
SepwaL
SepwaL

Writer at SEPWAL.

Komentar