Pernah nggak sih kamu ngerasa energi seharian mendadak habis, bukan karena kerjaan kantor yang numpuk, tapi karena omongan orang yang sebenarnya nggak penting-penting amat?
Tadi pagi, pas saya lagi asyik ngerjain format laporan, ada saja selentingan kecil yang mampir ke telinga. Komentar soal cara kerja saya yang "terlalu santai", atau sindiran halus soal kenapa meja saya jarang kelihatan rapi layaknya meja birokrat teladan.
Dulu, waktu umur masih awal 20-an, hal-hal
begini bisa bikin saya kepikiran sampai semalaman. Mau balas debat, males.
Dipendem, bikin dada sesak.
Tapi
seiring bertambahnya usia dan makin seringnya saya ngadepin printer kantor yang
suka ngadat di saat genting,saya belajar satu hal penting: Nggak semua masalah
berhak dapat tempat di kepala kita.
Kapasitas Otak Itu Terbatas, Bung!
Kepala
kita ini ibarat hardisk komputer. Kalau dipakai buat nyimpen file-file
sampah,kayak omongan julid tetangga, asumsi miring rekan kerja, atau drama
nggak penting di grup WhatsApp, otomatis memori buat hal yang lebih krusial
bakal full.
Buat apa
capek-capek mikirin orang yang nggak suka sama kita? Toh, mereka nggak ikut
bayar cicilan kopi hitam atau nyetok rokok Surya di meja saya. Kalau dipikirin
terus, yang ada malah sistem operasi kewarasan kita sendiri yang crash.
Di
sinilah pentingnya mengaktifkan fitur "Bodo Amat" yang terprogam
secara elegan. Bukan berarti kita jadi sombong atau nggak peduli sama sekali
dengan lingkungan sosial. Tapi kita jadi lebih selektif memilih: mana
informasi yang layak di-input, dan mana yang harus langsung di-delete permanen
dari sistem.
Stoikisme dan Kontrol Penuh atas Diri Sendiri
Marcus
Aurelius pernah bilang (atau setidaknya, itu yang saya resapi sambil ngebul di
pojokan kantor) Kamu punya kekuasaan atas pikiranmu, bukan di luar sana.
Sadarilah ini, dan kamu akan menemukan kekuatan.
Prinsip Stoik itu sebenarnya sederhana kalau diterapin di dunia kerja. Kalau ada orang yang nyinyir, itu urusan mereka dan di luar kendali kita.
Reaksi kita? Itu sepenuhnya hak prerogatif kita.
Mau baper? Silakan rugi sendiri.
Mau senyum
tipis sambil lanjut ngopi? Itu baru pilihan yang cerdas.
Saya lebih milih nyimpen energi buat nulis draf buku baru, nyusun skrip video kreatif, atau nge-build web aplikasi yang jelas-jelas ngebantu kerjaan jadi lebih cepat selesai.
Urusan omongan orang
lain? Anggap saja itu cuma angin lalu yang lewat di ventilasi ruangan arsip.
Ketenangan adalah Bentuk Balas Dendam Terbaik
Orang-orang
yang suka julid biasanya cuma pengen lihat kita kepancing emosi. Jadi, ketika
kita milih buat tetap tenang, lempeng, dan nggak ambil pusing, itu justru jadi
plot twist paling menyebalkan buat mereka.
Biarkan mereka sibuk dengan asumsinya sendiri.
Sementara kita?
Kita tutup hari dengan
kepala dingin, secangkir kopi yang rasanya konsisten, dan kepulan asap rokok
yang tenang di sore hari.
Hidup ini sudah cukup ribet tanpa harus ditambah beban pikiran dari orang yang nggak ngerti jalan hidup kita. Jadi, mulai hari ini, kalau ada hal-hal remeh yang bikin tensi naik, cukup tarik napas dalam-dalam, senyum tipis, dan katakan dalam hati: "Bodo amat, server saya lagi sibuk."

Komentar
Posting Komentar