Riview

Be Happy! Be Positive! karya Irfan Suryana — Menolak Tenggelam dalam Skenario Terburuk

Be Happy! Be Positive! karya Irfan Suryana — Menolak Tenggelam dalam Skenario Terburuk
Daftar Isi

Di era di mana istilah toxic positivity sering diperdebatkan, buku dengan sampul bergambar pelangi, bulan tersenyum, dan judul bernada riang seperti Be Happy! Be Positive! rentan dipandang sebelah mata. Sekilas, orang mungkin mengira isinya cuma seruan klise untuk "selalu tersenyum apa pun yang terjadi".

Namun, begitu membaca sampul belakangnya, ada kejujuran yang terasa akrab:

"Hidup sering kali dipenuhi tantangan... dipecat dari pekerjaan, nilai ujian buruk, kehilangan sahabat, atau patah hati. Manusia secara alami akan mengeluh, merasa ragu, bahkan putus asa."

Buku karya Irfan Suryana yang diterbitkan dengan subjudul Karena Pikiran Negatif akan Mempersulit Hidupmu! ini pada dasarnya bukan buku penyangkalan rasa sakit. Buku ini adalah panduan menata kepala ketika pikiran kita sendiri mulai bertindak seperti musuh dalam selimut.

Ketika Pikiran Sendiri Lebih Melelahkan dari Beban Kerja

Bagi yang sehari-hari berkutat di balik meja kerja, kelelahan fisik biasanya bisa selesai dengan tidur tujuh jam. Namun kelelahan mental akibat memutar skenario terburuk berkali-kali, sering kali bertahan berhari-hari.

Satu email bernada dingin dari atasan sudah cukup membikin kita overthinking seharian:

        "Apakah saya mau dipindah divisi?"

        "Apakah performa bulan ini dianggap gagal total?"

Irfan Suryana menyoroti bagaimana pikiran negatif punya bakat alami untuk mendramatisasi kenyataan. Masalah yang sebenarnya berukuran kerikil sering kita sulap menjadi batu besar di dalam kepala. Sebelum masalah di dunia nyata benar-benar terjadi, energi kita sudah lebih dulu habis terbakar oleh ketakutan-ketakutan imajiner yang kita karang sendiri.

Di bagian belakang buku ada kotak centang yang cukup menyentil: cocok untuk yang sedang lelah, overthinking, cemas, atau sedih. Poin-poin itu adalah potret nyata manusia modern yang kewalahan menjaga kestabilan batin di tengah tuntutan hidup.

Bukan Memaksa Bahagia, tapi Memilih Sudut Pandang

Poin paling berharga dari buku ini adalah pemahaman bahwa berpikiran positif bukan berarti pura-pura buta terhadap realitas buruk.

Ketika ada laporan yang salah input atau rencana proyek yang meleset, kecewa itu manusiawi. Masalahnya adalah apa yang kita lakukan setelah rasa kecewa itu lewat. Apakah kita memilih tenggelam dalam ratapan dan menyalahkan situasi, atau mengarahkan energi untuk membenahi apa yang masih bisa dikendalikan?

Buku ini menawarkan langkah-langkah praktis untuk memutus rantai pikiran liar:

  1. Membedakan Fakta dan Asumsi: Belajar berhenti menarik kesimpulan prematur sebelum ada bukti konkret di meja.
  2. Memberi Ruang untuk Menerima Kesalahan: Bahwa hari yang buruk bukan berarti hidup yang buruk; kegagalan satu tugas bukan vonis akhir atas kemampuan kita.
  3. Menggeser Fokus dari "Kenapa Harus Terjadi?" ke "Apa yang Bisa Dilakukan Sekarang?": Pertanyaan kedua mengembalikan kendali ke tangan kita, sementara pertanyaan pertama cuma mengundang rasa lelah berkepanjangan.

Gaya penulisan buku ini sangat ringkas, santai, dan langsung ke inti masalah tanpa banyak teori akademik yang rumit.

Namun bagi pembaca yang mencari analisis psikologis mendalam atau rujukan riset ilmiah yang berat, buku ini mungkin terasa terlalu sederhana. Pendekatannya lebih mirip percakapan dengan teman bicara yang mengingatkan kita untuk tidak mempersulit diri sendiri ketimbang sebuah risalah psikologi terapan.

Meski begitu, justru kesederhanaan itulah kekuatannya. Dalam kondisi kepala yang sedang penuh dan lelah sehabis kerja, kita jarang membutuhkan teori rumit; kita hanya butuh pengingat yang jernih dan menenangkan.

Menata Kembali Meja Pikiran

Di meja kerja, kita sering repot merapikan berkas yang berserakan, memilah mana yang arsip penting dan mana yang cuma coretan bekas. Sayangnya, kita jarang melakukan hal serupa pada kepala kita sendiri. Kita membiarkan pikiran cemas menumpuk sampai memenuhi ruang gerak batin.

Buku ini semacam ajakan untuk mulai menyortir isi kepala: buang kekhawatiran yang belum tentu terjadi, selesaikan apa yang ada di depan mata, dan sisakan ruang untuk bernapas lega.


Tertarik Membaca Buku Ini?

Buku ini sangat pas dibaca santai saat pikiran sedang suntuk atau butuh jeda di sela rutinitas kerja. Kalau kamu ingin menaruh buku ini di meja kerjamu, kamu bisa dapatkan edisi fisiknya yang asli melalui toko resminya di Shopee:

*Tips: Pastikan membeli versi orisinal agar kualitas cetak dan ilustrasinya tetap nyaman dibaca.


Iklan Ruang iklan responsif
SepwaL
SepwaL

Writer at SEPWAL.

Komentar