Layar ponsel menyala di sudut meja. Hanya notifikasi pembaruan aplikasi dan promo diskon makanan yang tidak pernah saya minta.
Ada jeda
sepersekian detik di mana jari refleks meraih layar, berharap nama yang muncul
adalah orang yang sama dengan yang dipikirkan sejak sore tadi. Tapi setelah
layarnya dibuka, ruang obrolan itu masih diam. Tetap sama seperti posisi
terakhirnya: pesan terakhir dari saya, terkirim berjam-jam lalu, lengkap dengan
tanda centang abu-abu atau abu-abu ganda yang dibiarkan membisu.
Dulu,
saya selalu punya stok alasan yang melimpah untuk memaklumi orang lain.
"Mungkin
dia lagi sibuk rapat."
"Kerjaannya
pasti lagi numpuk banget."
"Siapa
tahu baterai ponselnya habis di jalan."
Anehnya,
alasan-alasan manis itu selalu kita ciptakan sendiri untuk menambal kekecewaan,
bahkan sebelum orang tersebut sempat meminta maaf.
Ilusi Ketersediaan Tanpa Batas
Masalah
terbesar orang yang gampang peduli adalah kebiasaan menjadi standby customer
service bagi orang yang bahkan tidak berlangganan apa pun.
Kita
menyisihkan waktu, menaruh pekerjaan sebentar, atau menunda tidur hanya agar
bisa membalas pesannya dalam hitungan detik. Kita takut dia merasa diabaikan.
Kita khawatir obrolannya keburu dingin kalau tidak segera disambut.
Namun,
perlahan kita dipaksa sadar oleh pola yang berulang: mereka yang kita balas
dalam lima detik sering kali butuh waktu lima jam atau bahkan lima hari hanya
untuk membalas sepatah dua patah kata yang terasa hambar.
Di era
sekarang, hampir tidak ada orang yang benar-benar lepas dari ponselnya lebih
dari dua jam. Mereka melihat notifikasi itu muncul di bilah layar. Mereka
membaca pesan kita dari pop-up tanpa membukanya. Mereka hanya memilih
untuk meletakkannya kembali, melanjutkan menonton video singkat, atau membalas
orang lain yang mereka anggap lebih menarik.
Kenyataan
ini pahit, tapi sederhana. ini bukan soal siapa yang punya waktu luang,
melainkan soal siapa yang masuk daftar prioritas.
Lelah yang Datang Diam-Diam
Menunggu
kabar dari seseorang yang tidak berniat memberi kabar itu melelahkan secara
senyap. Rasanya seperti menyalakan lampu teras semalaman untuk tamu yang sudah
belok ke rumah tetangga sejak sore.
Kita
membuang begitu banyak kapasitas kepala hanya untuk memikirkan ritme orang
lain. Kapan harus membalas, bagaimana memilih kalimat agar tidak terkesan
menuntut, hingga menerka-nerka suasana hatinya dari tanda baca yang dia ketik.
Sementara
di seberang sana, hari mereka berjalan biasa saja. Tanpa beban, tanpa cemas,
dan tanpa memikirkan apa yang sedang terjadi di kepala kita.
Di titik
tertentu, rasa takut kehilangan (philophobia) sering kali bukan lahir
dari benci pada cinta itu sendiri, melainkan rasa ngeri membayangkan harus
kembali mengemis perhatian dari orang yang menganggap kehadiran kita cuma
pelengkap ketika dunianya sedang sepi.
Menutup Pintu Tanpa Perlu Membantingnya
Malam
ini, saya memutuskan untuk mematikan mode siaga itu.
Bukan
dengan cara memblokir nomornya, menghapus kontak dengan penuh drama, atau
mengunggah kutipan sindiran di cerita harian. Cara-cara seperti itu hanya
membuktikan bahwa kita masih terlalu peduli pada reaksinya.
Cukup
dengan mundur pelan-pelan. Tarik kembali energi yang selama ini
dihambur-hamburkan secara cuma-cuma.
Kalau
pesannya dibalas lusa, balas kembali saat kamu memang benar-benar punya waktu
luang lusa berikutnya. Jangan lagi berlari menyongsong seseorang yang hanya
berjalan santai saat menuju ke arahmu. Jika sebuah percakapan mati karena kamu
berhenti mengulur benang, biarkan percakapan itu selesai.
Ruang obrolan itu mestinya tempat bertukar cerita dua arah, bukan panggung monolog tempatmu menunggu tepuk tangan yang tak pernah datang.

Komentar
Posting Komentar