Riview Buku

Buku The Principles of Power karya Dion Yulianto, Belajar Bertahan di Tengah Politik Kantor Tanpa Perlu Menjilat

Buku The Principles of Power karya Dion Yulianto, Belajar Bertahan di Tengah Politik Kantor Tanpa Perlu Menjilat
Daftar Isi

Di dunia kerja, kita sering diajari bahwa "kerja keras tidak akan mengkhianati hasil". Datang paling pagi, pulang paling petang, menyelesaikan semua tumpukan berkas tanpa mengeluh, dan berharap atasan otomatis melihat dedikasi kita lalu memberi promosi.

Sayangnya, meja kantor bukan ruang ujian sekolah tempat nilai dibagikan secara adil berdasarkan kunci jawaban.

Berapa kali kita melihat orang yang kerjanya biasa-biasa saja, tapi kariernya melesat cepat hanya karena lihai berbicara dan pandai membaca arah angin? Sementara mereka yang tekun di balik layar justru sering kali cuma kebagian beban kerja tambahan saat rekan lain pulang lebih awal.

Buku karya Dion Yulianto yang bertajuk The Principles of Power: Rahasia Memanipulasi Orang Lain di Segala Situasi (Edisi Revisi) hadir dengan judul yang terdengar berbahaya, namun menyimpan realitas yang sangat dingin tentang bagaimana dinamika kuasa bekerja di sekitar kita.

Judul yang Menyeramkan, tapi Pesan yang Realistis

Mendengar kata "memanipulasi" di sampul depan dengan ilustrasi mahkota dan kepala bermahkota bulu hitam itu, orang mungkin mengira buku ini semacam panduan licik untuk menjadi penjahat kantor.

Namun jika membaca penjelasan di sampul belakangnya, Dion Yulianto meluruskan niatnya: buku ini merangkum 33 kiat praktis untuk memahami cara memengaruhi orang lain secara terukur mulai dari membangun rasa hormat dari rekan kerja, mendapatkan perhatian atasan tanpa perlu menjilat, hingga trik bertahan dari persaingan yang tidak sehat.

Bagi pekerja kantoran yang polos dan mengira kantor adalah tempat berteman belaka, konsep-konsep di buku ini seperti kacamata baru. Buku ini menyadarkan kita bahwa:

  1. Kuasa (Power) itu Netral: Kuasa itu seperti pisau dapur. Di tangan koki ia menghasilkan hidangan lezat, di tangan penjahat ia melukai. Menolak memahami dinamika kekuasaan tidak membuat kita jadi orang suci; itu hanya membuat kita jadi sasaran empuk yang mudah dimanfaatkan orang lain.
  2. Keahlian Teknis Saja Tidak Cukup: Menguasai rumus spreadsheet rumit atau merapikan ribuan berkas arsip adalah syarat masuk. Tapi cara kita mengomunikasikan hasil kerja dan menempatkan diri dalam hierarki organisasi adalah hal yang menentukan apakah kita dihargai atau sekadar dijadikan kuda beban.

Tiga Catatan Berharga untuk Pekerja di Balik Meja

Dari puluhan prinsip yang diurai Dion Yulianto dengan gaya bahasa yang mengalir dan ringkas, ada tiga hal yang sangat relevan bagi siapa pun yang sehari-hari duduk di kubikel kerja:

  • Seni Menjaga Batas Ketersediaan: Orang yang selalu berkata "bisa" untuk setiap permintaan tambahan biasanya tidak dianggap berjasa; mereka hanya dianggap selalu siap sedia. Buku ini mengajarkan pentingnya kelangkaan (scarcity). Sesekali mengatakan tidak dengan cara elegan justru melipatgandakan nilai kehadiran kita.

  • Memenangkan Pikiran Tanpa Adu Debat: Berdebat keras di ruang rapat jarang sekali mengubah opini lawan bicara; itu hanya mempermalukan mereka di depan umum dan memicu dendam terselubung. Kemenangan sejati adalah mengarahkan situasi sehingga orang lain merasa bahwa ide yang kita sodorkan sebenarnya adalah ide mereka sendiri.

  • Mengubah Lawan Menjadi Sekutu: Salah satu kiat menarik di buku ini adalah bagaimana merangkul pesaing atau orang yang berseberangan dengan kita. Di kantor, musuh abadi itu membuang energi. Menemukan satu kepentingan bersama (common interest) sering kali jauh lebih menguntungkan ketimbang terus memelihara perang dingin.

Apa Bedanya dengan 48 Laws of Power?

Bagi penikmat literatur strategi klasik, buku ini tentu punya kemiripan napas dengan karya legendaris Robert Greene (The 48 Laws of Power). Kutipan-kutipan tokoh dunia dan anekdot sejarah yang diselipkan juga memperkuat aroma tersebut.

Bedanya, versi Dion Yulianto ini terasa jauh lebih ringkas, tidak bertele-tele, dan bahasa Indonesianya sangat lentur untuk pembaca modern. Pembahasannya tidak melayang ke era kerajaan kuno yang terlalu jauh dari kenyataan kita, melainkan langsung ditarik ke aplikasi kehidupan sehari-hari dan interaksi antarmanusia di tempat kerja.

Tentu saja, peringatan moral tetap berlaku: membaca buku ini tujuannya adalah untuk membela diri (self-defense). Agar kita paham pola ketika seseorang sedang mencoba memanipulasi kita, bukan untuk menjadi tiran kecil di meja divisi sendiri.

Menutup Buku Hitam

Dunia kerja memang tidak selalu ramah. Ada hari-hari di mana kejujuran saja terasa kurang bertenaga di depan orang-orang yang mahir memainkan citra.

Namun bukan berarti kita harus ikut-ikutan kotor dan mengorbankan integritas. Membaca The Principles of Power memberi kita satu pelajaran penting: kecerdasan emosional dan pemahaman atas psikologi manusia adalah perisai terbaik agar kerja keras kita di balik meja tidak dicuri begitu saja oleh orang lain.


Tertarik Membaca Buku Ini?

Buku ini sangat direkomendasikan untuk kamu yang ingin lebih melek psikologi tempat kerja, belajar bersikap asertif, dan melindungi diri dari manipulasi tanpa harus menjilat atasan. Kalau kamu ingin membaca edisi fisiknya, kamu bisa dapatkan langsung lewat toko resminya di Shopee:

*Tips: Pastikan membeli edisi revisi orisinal terbitan Penerbit Jendela agar mendapatkan teks lengkap dan kualitas kertas cetak yang tajam.

Iklan Ruang iklan responsif
SepwaL
SepwaL

Writer at SEPWAL.

Komentar