Riview

Is It Bad or Good Habits karya Sabrina Ara — Menakar Kebiasaan Kecil di Balik Meja Kerja

Is It Bad or Good Habits karya Sabrina Ara — Menakar Kebiasaan Kecil di Balik Meja Kerja
Daftar Isi

Buku bersampul kuning cerah dengan ilustrasi lingkaran jam merah ini sudah beberapa hari bertengger di samping tumpukan map berkas. Di bagian atasnya tertera kutipan John C. Maxwell: "Mimpi menjadi kenyataan adalah hasil dari tindakan Anda, dan tindakan Anda sebagian besar dikendalikan oleh kebiasaan Anda."

Di toko buku, rak pengembangan diri (self-improvement) selalu dipenuhi tema serupa. Kita sering disodori rumus-rumus besar tentang bagaimana menjadi manusia super produktif, bangun pukul empat pagi, atau merombak hidup secara radikal dalam semalam.

Namun, buku karya Sabrina Ara yang bertajuk Is It Bad or Good Habits: Bagaimana Rutinitas dan Kebiasaan Dapat Memengaruhi Kehidupan ini memilih jalur yang lebih membumi: menelusuri retakan-retakan kecil dalam keseharian kita yang kerap luput dari perhatian.

Ketika Kebiasaan Bekerja Secara Otomatis

Sebagai orang yang menghabiskan hari dengan rutinitas berulang—menyalakan komputer kantor, membuka aplikasi email, mengecek lembar rekapitulasi—saya menyadari satu hal: sebagian besar tindakan kita diatur oleh mode pilot otomatis (autopilot).


Sabrina Ara dalam buku ini membedah bagaimana otak kita sebenarnya malas membuang energi. Otak menyukai pola. Sekali sebuah tindakan diulang dan memberi sedikit rasa nyaman atau pelarian instan, ia akan dikunci menjadi kebiasaan—entah kebiasaan itu membangun atau justru merusak secara perlahan.

Yang menarik dari cara bertutur Sabrina adalah ia tidak menghakimi pembaca dengan istilah-istilah psikologi yang rumit. Ia mengajak kita mengaudit hal-hal sepele yang sering kita anggap lumrah:

  • Menunda pekerjaan sulit dengan dalih "cari inspirasi dulu", padahal cuma menggulir layar media sosial tanpa tujuan.
  • Membuka tab baru di peramban saat kepala mulai jenuh, hingga akhirnya tenggelam dalam video pendek selama dua puluh menit.
  • Terbiasa tidur larut malam hanya untuk membalas dendam waktu luang yang terampas di jam kantor (revenge bedtime procrastination).

Kebiasaan buruk jarang datang dengan suara ledakan besar. Ia menyusup pelan seperti rembesan air di dinding: tidak langsung merobohkan rumah, tapi pelan-pelan merapuhkan fondasi.

Bukan Merombak Total, tapi Menggeser Arah Jarum

Salah satu poin penting yang digarisbawahi dalam buku ini adalah jebakan perubahan drastis. Banyak orang gagal membentuk kebiasaan baik karena memasang target yang terlalu muluk di awal.

Ingin sehat langsung memaksakan lari lima kilometer setiap subuh; ingin rajin membaca langsung menargetkan tamat satu buku tebal dalam dua hari. Begitu energi habis di pekan pertama, rasa frustrasi datang, dan kita kembali ke setelan pabrik.

Sabrina menawarkan pendekatan bertahap:

  1. Kenali Pemicunya (Trigger): Cari tahu apa yang membuat kita otomatis meraih ponsel atau mengeluh saat bekerja. Apakah rasa lelah, bosan, atau cemas menghadapi berkas yang menumpuk?
  2. Ubah Responnya Secara Minimal: Jangan hilangkan jedanya, tapi ganti aksinya. Jika lelah, alih-alih membuka medsos yang membikin kepala makin penuh, cobalah berdiri sejenak mengambil air putih atau sekadar merenggangkan punggung.
  3. Rayakan Konsistensi Kecil: Kebiasaan baik bukan soal intensitas yang meledak-ledak di awal, melainkan repetisi yang bertahan meski suasana hati sedang berantakan.

Catatan Kritis: Apa yang Kurang?

Tentu tidak ada buku yang sempurna. Untuk pembaca yang sudah kenyang membaca literatur kebiasaan klasik seperti Atomic Habits milik James Clear atau The Power of Habit karya Charles Duhigg, beberapa konsep dalam buku ini mungkin terasa tidak asing lagi. Teori lingkaran kebiasaan (cue-routine-reward) masih menjadi tulang punggung yang sering diulang.

Selain itu, ada beberapa bagian yang pembahasannya terasa sedikit mengulang inti pesan yang sama di bab-bab berikutnya.

Namun, kekuatan buku Sabrina Ara ini justru terletak pada konteksnya yang sangat dekat dengan realitas pembaca lokal. Gaya bahasanya ringan, mengalir, dan tidak membuat pembaca merasa sedang diomeli oleh seorang guru besar. Buku ini enak dibaca pelan-pelan saat jeda istirahat siang atau menjelang tidur malam.

Menutup Sampul Kuning

Menutup lembar terakhir buku ini, saya menatap kembali meja kerja di hadapan saya.

Perubahan hidup tidak selalu dimulai dari keputusan besar seperti mengundurkan diri dari pekerjaan atau pindah kota. Sering kali, rekonsiliasi hidup dimulai dari hal paling sederhana: menutup tab yang tidak perlu saat jam kerja, meletakkan ponsel lebih jauh saat hendak tidur, dan berani menolak distraksi kecil yang mencuri fokus kita.

Bagi kamu yang belakangan merasa harinya berjalan berantakan dan terasa lelah tanpa tahu ke mana perginya waktu, buku ini adalah cermin yang pas untuk mulai memeriksa: apakah kebiasaan yang kita pelihara hari ini sedang membawa kita ke depan, atau sekadar memutar kita di lingkaran yang sama?

Tertarik Membaca Buku Ini?

Buku ini cukup ramping (sekitar 134 halaman), jadi sangat bersahabat dibaca pelan-pelan di sela jam istirahat kantor atau sebelum tidur tanpa bikin kepala pusing. Kalau kamu ingin menaruh buku bersampul kuning ini di meja kerjamu juga, kamu bisa dapatkan edisi fisiknya yang original lewat tautan resmi di bawah ini:

*Catatan: Tautan di atas merupakan link afiliasi toko resmi/terpercaya. Membeli lewat link ini membantu mendukung meja SepwaL tetap mengepul tanpa biaya tambahan untukmu.


Iklan Ruang iklan responsif
SepwaL
SepwaL

Writer at SEPWAL.

Komentar