Di Balik Meja

Kenapa Excel Kadang Lebih Adil daripada Hubungan Antarmanusia

Kenapa Excel Kadang Lebih Adil daripada Hubungan Antarmanusia
Daftar Isi

Jam dinding di ruang tengah sudah lewat pukul sepuluh malam. Kipas laptop masih mendesing pelan, mengembuskan sisa-sisa panas dari jam kerja siang tadi yang belum sepenuhnya dingin.

Sebagai orang yang menghabiskan sepertiga harinya berteman dengan baris, kolom, dan tumpukan berkas mutasi, ada satu benda yang paling sering saya benci sekaligus saya hormati yaitu Microsoft Excel.

Benci, karena kotak-kotak hijau itu kerap bikin mata perih dan kepala berdenyut menjelang tanggal rekapitulasi. Tapi hormat, karena spreadsheet punya satu sifat yang makin hari makin langka saya temukan di luar kantor: kejujuran yang mutlak.

Logika Kotak Hijau yang Tak Punya Prasangka

Di lembar kerja, tidak ada yang namanya salah paham.

Kalau rumusmu keliru, ia akan langsung bilang #VALUE! atau #REF!. Tanpa basa-basi, tanpa mendiamkanmu tiga hari berturut-turut sambil memasang status galau di media sosial. Kalau ada angka selisih seribu perak saat rekonsiliasi kas, layarmu tidak akan seimbang (balance). Excel tidak pernah pura-pura berkata, "Nggak apa-apa kok, santai aja," padahal di belakang menaruh dendam berbulan-bulan.

Kesalahan di sana terukur. Ada jejaknya. Kamu tinggal menekan tombol trace dependents, menelusuri sel mana yang salah rujuk, lalu memperbaikinya. Urusan selesai. Tidak perlu ada sesi klarifikasi berbelit-belit di kedai kopi hanya untuk menebak kalimat mana yang salah ucap tiga pekan lalu.

Di atas meja admin, salah adalah salah, benar adalah benar. Keduanya berdiri di koordinat yang jelas.

Sementara di Luar Rumus, Segalanya Serba Ragu

Masalahnya, begitu pintu kantor tertutup dan kita melangkah pulang, kita tidak lagi berhadapan dengan baris angka. Kita berhadapan dengan manusia.

Di dunia nyata, hubungan antar orang jarang sekali punya fungsi IF yang presisi. Kamu bisa saja sudah memasukkan semua variabel kebaikan. waktu yang diluangkan, kabar yang selalu ditanyakan tepat waktu, hingga kesabaran mendengarkan keluh kesah berjam-jam. Logika dasarnya, rumusnya mestinya menghasilkan nilai sepadan. Tapi ujung-ujungnya? Hasilnya tetap saja keluar sebagai tanda tanya besar.

Orang bisa tiba-tiba menjauh tanpa pesan galat (error message). Percakapan bisa mendadak hambar tanpa ada tombol audit yang bisa menjelaskan di mana letak kerusakannya.

Kita sering kali lelah bukan karena volume pekerjaannya, melainkan karena energi yang terkuras untuk menerka-nerka niat orang. Berapa banyak waktu yang kita habiskan malam-malam hanya untuk membedah arti dari pesan singkat seseorang yang cuma berjarak dua kata?

Di titik itulah saya kadang merasa, kotak-kotak spreadsheet yang kaku itu justru jauh lebih manusiawi ketimbang dinamika kita sehari-hari. Excel tidak menuntut kita membaca pikiran.

Mengaudit Diri Sendiri Sebelum Menutup Hari

Malam ini, menutup berkas laporan bulanan terasa sedikit melegakan. Semua angka di kolom akhirnya berjabat tangan dan selesai

Mungkin rekonsiliasi paling sulit bukan mencocokkan mutasi bank dengan bukti transfer fisik, melainkan mencocokkan ekspektasi kita sendiri dengan realitas orang lain. Kita sering menuntut orang bersikap logis seperti kalkulator, padahal kita sendiri kerap mengambil keputusan berdasarkan suasana hati yang berantakan.

Sama seperti rumus panjang yang tiba-tiba rusak, tidak semua hal dalam hidup perlu dipaksakan selesai malam ini. Kalau ada selisih rasa yang tak kunjung ketemu jalannya, mungkin memang bukan rumus kita yang salah. Barangkali, referensi datanya memang sudah tidak lagi berada di tempat yang sama.

Tutup laptopnya. Besok pagi tumpukan berkas baru pasti datang lagi, tapi malam ini, beri diri sendiri waktu untuk rehat tanpa perlu mencari-cari penyebab galat yang tak pernah ada jawabannya.

Iklan Ruang iklan responsif
SepwaL
SepwaL

Writer at SEPWAL.

Komentar