Di Balik Meja

Kursi Kelima di Meja Kedai

Kursi Kelima di Meja Kedai
Daftar Isi

Sebuah catatan sunyi tentang kursi yang sengaja ditiadakan, dan pintu yang tak perlu diketuk lagi.

Di bawah lampu temaram kedai kopi
gelas-gelas berdenting tanpa jeda
tawa mekar di antara kepul asap
dan cerita semalam dibagi rata.

Ada empat cangkir yang dipesan
empat pasang mata yang saling menatap
empat nama yang masih terikat rapi
dalam peta obrolan yang sengaja disekap.

Sementara di seberang kota yang lain
seorang kawan lama merapikan berkas
menatap layar monitor yang mulai temaram
menghirup udara kantor yang perlahan lepas.

Tak ada pesan singkat yang tertinggal
tak ada bangku cadangan yang disiapkan
hanya ada aroma kopi yang mereka ceritakan esok pagi
seolah ketidakhadiranmu adalah kepantasan.

Dulu, ruang kerja itu pernah sama
keluhan lembur pernah kita bagi tanpa sisa
lalu jarak memilah dengan dingin dan tergesa:
siapa yang sekadar teman satu ruangan
dan siapa yang sungguh ingin membersamai masa.

Maka biar kututup laci meja ini
tak perlu kuketuk pintu yang sengaja dikunci
kursi kelima itu memang sengaja disingkirkan
bukan karena kau telah kalah dan sepi,
melainkan agar langkahmu leluasa pulang
menemukan rumah yang tak pernah mengusirmu pergi.


Iklan Ruang iklan responsif
SepwaL
SepwaL

Writer at SEPWAL.

Komentar