Pukul sembilan malam lewat sedikit, alarm biologis seorang bujangan mandiri berbunyi nyaring. Bukan tanda untuk segera tidur demi menjaga kesehatan kulit, melainkan panggilan perut yang protes setelah seharian hanya disumpal makan siang ala kadarnya dan kopi saset kantor. Pilihan makan malam di rumah sendiri yang sepi ini sebenarnya beragam, tapi ujung-ujungnya tangan selalu refleks membuka lemari gantung dan meraih sebungkus mi instan kuah rasa kari ayam.
Di atas kompor satu tungku, ritual agung manusia modern pun dimulai. Menunggu air dua gelas mendidih sambil memencet-mencet bungkus bumbu minyak yang menggumpal kaku adalah puncak kesabaran saya hari ini jauh lebih sabar daripada saat meladeni rekan kerja yang salah kirim lampiran berkas tadi siang. Sebagai bumbu kemewahan, saya menambahkan sebutir telur ayam yang diceplok asal-asalan, berharap asupan protein itu cukup untuk menipu nurani bahwa hidangan malam ini masih masuk kategori "bergizi seimbang".
Kecerdasan bertahan hidup seorang penghuni rumah tunggal baru benar-benar teruji saat mi matang: memindahkan mi ke dalam mangkok keramik yang cantik adalah sebuah dosa besar. Untuk apa mengotori mangkok, piring tatakan, dan sendok tambahan jika panci bergagang hitam itu bisa langsung diangkat ke meja kerja? Menyantap mi panas langsung dari pancinya beralaskan potongan kalender bekas bukan tanda kemalasan, melainkan efisiensi logistik tingkat tinggi agar nanti malam saya tidak perlu berdiri lama di depan wastafel cuci piring.
Sambil meniup kuah yang mengepul di depan layar laptop, sesekali saya tersenyum kecut menatap pantulan wajah di kaca jendela yang gelap. Lucu rasanya mengingat resolusi hidup sehat yang saya dengungkan awal bulan lalu: janji mengurangi natrium, niat memasak sayur segar setiap sore, dan angan-angan menata meja makan bak foto estetik di media sosial. Nyatanya, di hadapan semangkuk atau lebih tepatnya sepanci karbohidrat gurih bersodium tinggi ini, semua prinsip hidup sehat itu gugur tanpa sisa.
Kita sering menertawakan orang lain yang hidupnya penuh kepalsuan, padahal diri sendiri adalah juara bertahan dalam hal mencari pembenaran. Makan langsung dari panci sambil diselingi bunyi kuah yang diseruput rakus mungkin terlihat menyedihkan bagi orang luar, tapi bagi seorang admin yang kepalanya baru saja lepas dari jeratan rumus Excel, sodium murah meriah ini adalah satu-satunya bentuk penghargaan diri yang paling realistis dan tidak banyak menuntut.

Komentar
Posting Komentar