Cerita Pendek

Takaran Gula dan Uang Kembalian

Takaran Gula dan Uang Kembalian
Daftar Isi

Hujan baru saja reda ketika nampan berisi kudapan hangat itu diletakkan di meja tengah warung. Asap tipis mengepul dari tumpukan risoles dan kue apem, berpadu dengan bau tanah basah yang merembes masuk dari pelataran. Sore ini warkop ujung gang sedikit lebih ramai karena ada syukuran kecil-kecilan dari pemilik warung yang baru saja melunasi cicilan motornya.

Dari bangku kayu paling pojok, aku menyesap kopi hitamku pelan-pelan. Di depanku, buku catatan terbuka, tapi sejak sepuluh menit lalu belum ada satu kalimat pun yang bertambah. Bukan karena kehabisan ide, melainkan karena lonceng angin di pintu warung baru saja berbunyi, menandakan kedatangan tamu sore yang jadwalnya lebih tepat waktu daripada kereta kota.

Bang Hendra berdiri di ambang pintu, melipat payung hitamnya sambil mengibas-ngibaskan ujung celana. Cincin perak di jari manis kanannya berkilat tertimpa lampu neon warung yang temaram.

Seperti biasa, pria dari blok seberang itu tidak langsung menuju sasaran utamanya di balik etalase kaca. Ia memilih rute memutar rute klasik orang yang ingin terlihat kebetulan mampir.

"Wih, makan besar nih! Selamat ya, Pakde, lunas juga akhirnya," seru Bang Hendra sambil menepuk bahu pemilik warung di meja depan. Ia tertawa lebar, mengambil sebatang tusuk gigi, lalu berjalan menyusuri lorong sempit di antara bangku kayu.

Langkahnya melambat saat melewati mejaku. "Masih betah aja di pojokan. Nggak ikut ngambil kue?" tanyanya, separuh badannya berhenti di sampingku.

Aku mendongak sekilas, mengukir senyum seadanya. "Sebentar lagi, Bang. Masih kenyang."

Kujawab singkat karena aku tahu, bahkan saat mulutnya bertanya padaku, ekor mata Bang Hendra sudah melirik lurus ke arah etalase sudut tempat Sari berdiri. Aku hanyalah batu loncatan agar langkah kakinya terlihat wajar. Begitu aku kembali menunduk menatap buku catatanku, sepatu Bang Hendra langsung berbelok mantap, berlabuh tepat di bangku kosong depan etalase kaca.

"Sar, mukamu jangan ditekuk gitu dong. Kalah manis nanti kue apemnya," celetuk Bang Hendra, suaranya sengaja dikeraskan agar terdengar seperti ledekan tongkrongan biasa.

Sari, yang sejak tadi pura-pura sibuk mengelap toples kerupuk, langsung menoleh.

"Apaan sih, Bang! Datang-datang bukannya salam malah ngajak ribut. Sana ah, balik ke seberang, sempit tahu!" sahut Sari, tak kalah nyaring. Ia tertawa renyah, tangannya mengibas-ngibas udara seolah mengusir lalat.

Orang-orang di meja depan yang sibuk mengobrol mungkin mengira itu cuma banyolan sore antara pelanggan dan penjaga warung. Tapi dari sudut mejaku yang hanya berjarak tiga langkah, panggung sandiwara itu terlihat telanjang bulat.

Mulut Sari memang mengusir, tapi kakinya justru bergeser mendekat ke bibir etalase. Bibirnya mengerucut manja—sebuah ekspresi merajuk yang terlalu ganjil untuk dilemparkan seorang gadis lajang kepada pria beranak dua. Dan matanya... ah, sepasang mata itu sama sekali gagal berakting. Saat tawa mereka mulai reda, sorot mata Sari mengunci wajah Bang Hendra dari balik kaca etalase. Tatapannya meredup, basah, dan penuh pemujaan yang tertahan.

Bang Hendra membalas tatapan itu tanpa suara. Ia menumpukan kedua sikunya di atas kaca etalase, mencondongkan tubuhnya hingga jarak wajah mereka tinggal sejengkal. Senyum di sudut bibirnya miring sebelah, matanya turun memperhatikan gerak bibir Sari, lalu naik lagi menatap manik mata perempuan itu dalam-dalam.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Suara obrolan di sekitar mereka seolah lenyap.

Prang!

Sendok garpu jatuh dari meja tengah.

Seketika, kelopak mata Sari mengerjap kaget. Bola matanya meliar panik ke kanan dan ke kiri, dan saat tak sengaja beradu pandang denganku yang sedang memegang gagang cangkir, wajahnya langsung memerah. Ia buru-buru memutar badan, meraih teko air panas dengan gerakan yang kelewat gugup.

Untuk mencairkan suasana yang mendadak canggung, Sari mengambil piring kecil dari bawah meja—piring yang sebenarnya sudah ia siapkan dan ia sembunyikan di dekat laci sejak nampan kudapan keluar dari dapur sepuluh menit lalu.

Di atas piring itu hanya ada tiga potong risoles hangat dan satu gorengan tempe. Tidak ada kue apem, karena seluruh penghuni pojok warung ini sudah hafal kalau Sari paling tahu asam lambung Bang Hendra gampang naik kalau makan kue beragi. Bersama piring itu, meluncur pula segelas kopi hitam yang baru diseduh dengan takaran satu setengah sendok gula, takaran presisi yang tak pernah meleset satu milimeter pun.

"Tuh, ganjal perut dulu. Tadi siang di seberang pasti belum sempat makan beneran, kan?" ucap Sari. Nadanya kini turun satu oktaf, tak lagi melengking seperti saat bercanda tadi. Lembut, nyaris seperti bisikan seorang istri di meja makan.

Bang Hendra meraih risoles itu, menatap Sari dengan sorot mata paling teduh yang ia miliki. "Emang cuma kamu yang paling ngerti aku, Sar. Di sana mana ada yang sempat mikirin ginian."

Satu kalimat itu mendarat mulus di telinga Sari. Aku bisa melihat bahu perempuan itu sedikit terangkat, dadanya membusung tipis dengan senyum puas yang tak bisa ia sembunyikan.

Selesai mengunyah risoles kedua, Bang Hendra melakukan gerakan pamungkasnya. Tangan kanannya menepuk-nepuk saku kemeja, lalu meraba saku celana belakangnya dengan kening berkerut.

"Duh... bungkus rokokku kosong lagi. Mau jalan ke ATM depan kok gerimis lagi di luar. Sar, ada dua puluh ribu nggak? Pinjam dulu buat beli sebungkus di sebelah, besok pagi pas lewat kuganti."

Kalimat besok kuganti itu meluncur begitu mulus, tanpa beban, seolah belum pernah diucapkan belasan kali di bulan yang sama.

Sari bahkan tidak membiarkan Bang Hendra menyelesaikan kalimatnya. Tangannya langsung menarik laci kayu, bukan laci uang warung, melainkan dompet kain miliknya sendiri yang terselip di pojok. Selembar uang dua puluh ribuan yang masih licin disodorkan lewat celah bawah etalase.

"Ambil aja, Bang. Nggak usah diganti, kayak sama siapa aja," sahut Sari, jemarinya sempat bersentuhan sepersekian detik dengan telapak tangan Bang Hendra saat menyerahkan uang itu.

"Wah, jadi nggak enak nih aku ngerepotin kamu terus," gumam Bang Hendra, namun tangannya dengan sigap melipat uang itu dan memasukkannya ke dalam saku.

Belum sempat ia beranjak membeli rokok ke warung sebelah, suara deru motor matik berhenti tepat di depan teras warkop.

Seorang bocah laki-laki berseragam sekolah dasar yang sudah agak kusut berlari kecil masuk ke dalam warung, diikuti aroma parfum wanita dari arah motor yang mesinnya masih menyala di tepi jalan.

"Ayah! Kata Mama suruh cepat pulang, ini beras sama minyak gorengnya udah dibeli di depan, tinggal diangkat ke rumah!" seru bocah itu polos, menarik ujung kemeja Bang Hendra.

Waktu di sudut etalase itu mendadak membeku.

Senyum miring di bibir Bang Hendra langsung lenyap, berganti dengan raut wajah kebapakan yang sigap dan sedikit gugup. Ia buru-buru menegakkan punggungnya, menjauh satu langkah dari etalase kaca seolah kaca itu baru saja mengalirkan listrik.

"Eh, iya, Nak. Ini Ayah baru aja mau balik, tadi cuma neduh sebentar kok," sahut Bang Hendra agak keras—cukup keras agar terdengar oleh sosok perempuan berhelm yang sedang duduk menunggu di atas motor di luar sana.

Tanpa menoleh lagi ke arah Sari, tanpa mengucapkan terima kasih untuk risoles yang sudah habis dua potong maupun uang dua puluh ribu yang masih hangat di dalam sakunya, Bang Hendra langsung merangkul bahu anaknya dan bergegas keluar warung. Kopi hitam dengan takaran gula satu setengah sendok itu bahkan baru diminum seperempat gelas.

Di balik etalase, Sari berdiri mematung. Tangannya yang tadi memegang lap kain perlahan turun. Dari balik kacamataku, kulihat matanya menatap lurus ke arah jalanan luar, memperhatikan Bang Hendra yang mengambil alih kemudi motor, sementara perempuan di boncengan belakang melingkarkan tangannya di pinggang pria itu sebelum motor mereka melaju membelah sisa gerimis.

Ruangan warkop kembali riuh oleh suara tawa bapak-bapak di meja tengah. Namun di sudut etalase itu, keheningan terasa begitu pekat.

Sari menunduk. Dengan gerakan pelan, ia menarik gelas kopi Bang Hendra yang masih tersisa banyak, lalu membuang isinya ke dalam ember cucian di bawah meja.

Aku menutup buku catatanku, merogoh saku mengeluarkan selembar uang pas untuk membayar kopiku sendiri, lalu meletakkannya di pojok meja. Saat aku melangkah keluar warung, Sari sudah kembali menyusun gorengan di balik kaca, mencoba memasang senyum ramahnya pada pelanggan lain yang baru datang—meski sorot matanya kini tampak jauh lebih redup daripada lampu neon di atas kepalanya.

Iklan Ruang iklan responsif
SepwaL
SepwaL

Writer at SEPWAL.

Komentar