Radiasi Monitor, Ketukan Stempel, dan Logika Cinta yang Not Responding
Halo lagi, dunia literasi yang sudah lama saya tinggalkan demi tumpukan berkas dan aplikasi pemerintah yang sering mogok kerja. Kalau ada yang tanya kenapa saya seeeeeeeeeeeeeeeeeorang admin TU ini lama tidak update, jawabannya sederhana: Saya sedang terjebak dalam perang dunia ketiga melawan radiasi monitor dan tumpukan berkas yang kalau ditumpuk bisa menyaingi tinggi Monas.
Menjadi
admin TU di tahun 2026 ini bukan cuma soal adu cepat mengetik di Excel, tapi
soal menjaga kewarasan agar tidak mulai mengajak bicara mesin printer yang
sedang paper jam.
Bahaya Layar Biru: Saat Mata Pedih tapi Hati Masih (Mencoba) Gigih
Bahaya
utama pekerjaan saya adalah "Cahaya Biru". Monitor di depan saya ini
punya hobi menembakkan radiasi yang bikin mata perih, kepala cenat-cenut, dan
seringkali membuat saya berhalusinasi melihat deretan NISN berenang-renang di
dalam mangkuk bakso saat jam istirahat.
Terlalu lama menatap layar membuat kita rentan mengalami "mati rasa digital". Kita menuntut segala hal secepat klik copy-paste. Bahayanya, pola pikir ini sering terbawa ke dunia percintaan.
Kita ingin hubungan yang shortcut-nya
segampang Ctrl+S (biar aman dan nggak hilang), atau kalau pasangan mulai rewel,
rasanya ingin kita Ctrl+Alt+Del saja biar hidup kembali lancar tanpa drama.
Padahal, cinta itu nggak punya tombol undo. Sekali salah ketik di hati
seseorang, dampaknya lebih ngeri daripada salah input nilai rapor satu sekolah.
"Di dunia administrasi, kita belajar presisi. Tapi dalam cinta, kita belajar bahwa tidak semua perasaan bisa di-input ke dalam tabel Excel yang rapi." Sepwalv
Stempel: Senjata Pamungkas dan Saksi Bisu Perasaan
Di
tengah dunia yang serba digital dan abstrak ini, penyelamat hidup saya adalah
benda kayu kecil berkepala karet: Stempel.
Bagi
saya, stempel adalah simbol komitmen. Di meja TU, sebuah dokumen tidak akan
punya harga diri kalau belum kena ketukan stempel. Begitu juga dalam hubungan.
Kamu boleh saja memberikan ribuan janji manis lewat WhatsApp, tapi itu semua
belum "sah" kalau belum ada "stempel komitmen" di depan
orang tua.
Bunyi “Tak!” saat stempel mendarat di atas kertas itu adalah terapi jiwa. Bunyinya lebih merdu daripada notifikasi transferan gaji (oke, ini bohong, gaji tetap lebih merdu). Tapi ada satu ketakutan terbesar admin TU: menstempel dalam posisi terbalik. Rasanya seperti sudah menyatakan cinta dengan romantis, eh ternyata salah sebut nama.
Malunya sampai ke ubun-ubun! Belum lagi noda tinta
ungu di jari kelingking yang membuat saya terlihat seperti baru selesai
mencoblos di Pemilu setiap hari. Tapi ya sudahlah, tinta itu adalah tanda bahwa
saya bekerja dengan nyata, bukan sekadar memindahkan piksel di layar.
Filosofi Antara Sabar dan "Not Responding"
Meja TU
adalah panggung teater terbaik. Di balik Meja, saya melihat berbagai karakter
manusia. Ada yang datang dengan senyum penuh maksud (biasanya mau minta tolong
didahulukan), ada yang datang dengan wajah emosi karena sistem pusat sedang
error.
Di
sinilah ujian mental seorang admin TU. Saat sistem pusat sedang Not Responding,
saya harus tetap Responding dengan senyum pepsodent. Ini mirip seperti
menghadapi pasangan yang tiba-tiba ghosting. Kita sudah kirim data lengkap,
sudah divalidasi, eh tiba-tiba koneksi terputus dan statusnya berubah jadi
Offline.
Kadang, hidup itu seperti aplikasi sudah kita usahakan sinkron sekuat tenaga, tapi pusat tetap bilang 'Data Belum Ditemukan'. Di situlah kita belajar bahwa sabar bukan sekadar menunggu, tapi cara kita bersikap saat menunggu itu sendiri." — Sepwalv
Tips Waras (Biar Gak Curhat ke Stapler)
Agar tetap bisa jatuh cinta dan tetap waras di meja kerja, saya punya aturan sendiri:
Ritual
Kopi dan Kontemplasi: Sebelum monitor menyala, segelas kopi adalah wajib.
Biarkan kafein masuk sebelum radiasi menyerang.
Aturan
20-20-20: 20 menit lihat Excel, 20 detik lihat gebetan (kalau ada), kalau nggak
ada ya lihat pohon di luar jendela. Biar mata nggak kaku seperti hati
yang lama menjomblo.
Tertawakan
Error-nya: Kalau sistem macet, ya sudah, saatnya ngemil gorengan. Jangan
dilawan, nanti tensi naik.
Menjadi
admin TU mungkin terlihat membosankan bagi sebagian orang. Tapi bagi saya, ini
adalah seni menjaga keseimbangan. Antara dinginnya data dan hangatnya tawa di
kantor. Antara kaku-nya aturan dan lenturnya perasaan.
Mata
boleh lelah karena radiasi, jari boleh ungu karena tinta, tapi jangan sampai
logika cinta kita ikut-ikutan hang. Pulanglah dengan kepala tegak, tekan tombol
shut down di komputer, dan jangan bawa urusan kantor ke dalam mimpi. Kecuali
kalau mimpimu memang sedang menstempel surat nikah dengan si dia. Itu beda
urusan!
"Jangan biarkan dirimu menjadi robot di dunia yang penuh mesin. Tetaplah menjadi manusia yang punya rasa, meski kerjamu hanya berkutat dengan angka dan kertas sisa."
