Lomba Lari di Layar HP: Mengapa Kita Lelah Mengejar Hidup Orang Lain?
Pernah tidak, saat sedang asyik rebahan sambil menikmati sisa kerupuk di kaleng, tiba-tiba tangan gatal membuka Instagram atau TikTok? Lalu, hal pertama yang muncul di layar adalah teman masa kecil yang baru saja beli mobil baru, atau rekan kerja lama yang lagi posting foto liburan di luar negeri dengan caption puitis: "Feeling blessed."
Seketika,
kerupuk di tangan rasanya jadi hambar. Tiba-tiba kita merasa hidup kita
begini-begini saja, seolah-olah kita sedang lari di tempat sementara orang lain
sudah sampai di garis finish.
1. Perangkap Cuplikan
Terbaik
Masalah utama dari media sosial
adalah kita membandingkan dapur
kita yang berantakan dengan ruang
tamu orang lain yang sudah rapi. Orang tidak akan memposting momen saat
mereka lagi dikejar deadline
sampai lupa mandi, atau saat mereka pusing mikirin cicilan. Yang mereka
tunjukkan hanyalah cuplikan terbaik (highligt).
Kita
melihat mereka seolah-olah hidupnya mulus seperti jalan tol yang baru diaspal,
padahal kita tidak tahu kalau di belakang layar, mereka mungkin juga sedang
tambal sulam sana-sini.
2.
Penyakit Ingin Selalu"Update (FOMO)
Ada
perasaan gelisah kalau kita tidak tahu tren terbaru, tempat kopi yang lagi hits, atau tidak ikut komentar
di isu yang lagi viral. Kita takut ketinggalan kereta. Akhirnya, waktu kita
habis cuma buat mengamati hidup orang lain sampai lupa mengurus hidup sendiri.
Candaan Dulu: Lucunya, terkadang kita merasa minder liat teman posting makan steak mewah dengan pencahayaan estetik, padahal kita sendiri di rumah lagi berjuang membagi satu butir telur menjadi tiga bagian buat makan sampai sore.
Kita merasa tertinggal secara ekonomi, padahal bisa
saja teman kita itu makan steak pakai promo diskon 90% atau malah itu foto lama
yang baru di-upload biar kelihatan tetap eksis.
3.
Hidup Bukan Kompetisi Antar-Layar
Kita
sering lupa kalau setiap orang punya "jam operasional" yang berbeda.
Ada yang sukses di usia 25 tahun, ada yang baru menemukan jalannya di usia 40
tahun. Tidak ada aturan baku kalau usia sekian harus punya ini-itu.
Memaksa
diri untuk mengikuti standar hidup orang lain di media sosial itu ibarat kita
memakai sepatu ukuran orang lain. Kelihatannya bagus di mata orang, tapi kaki
kita sendiri yang lecet dan sakit karena tidak pas.
4.
Cara "Log Out" dari Rasa Minder
Bagaimana
caranya biar tidak capek ikut lomba lari imajiner ini?
·
Kurangi
Durasi Scroll:
Kalau sudah mulai merasa sesak dada setelah lihat postingan orang, segera tutup
aplikasinya. Itu tandanya mental kita sudah mencapai batas kuota.
·
Ingat
"Ongkos" di Balik Foto:
Di balik foto liburan yang indah, ada tabungan yang dikuras habis. Di balik
jabatan tinggi, ada waktu tidur yang hilang. Pertanyaannya: maukah kita
membayar harga yang sama?
·
Syukuri
"Pencapaian Kecil":
Berhasil bangun pagi, bisa makan enak, dan kerjaan selesai tepat waktu itu
sudah sebuah kemenangan. Tidak perlu di-post, cukup dirasakan.
Kesimpulan
Hidup
ini perjalanan, bukan perlombaan siapa paling cepat pamer harta di layar HP.
Fokuslah pada lintasan lari kita sendiri. Tidak perlu menengok ke kanan-kiri
hanya untuk membandingkan kecepatan.
Lagian,
buat apa kelihatan "menang" di mata orang lain kalau di dalam hati
kita merasa lelah karena terus-terusan akting? Lebih baik hidup sederhana tapi
tenang, daripada hidup mewah demi konten tapi batin terasa gersang.
Ingat,
Puh, layar HP itu cuma berukuran beberapa inci, jangan biarkan hal sekecil itu
mendominasi seluruh duniamu yang luas.
