Menapak Bumi Sebelum Menatap Langit Dilema Gaji vs Passion di Usia 30-an

SepwaL 5 min read

Di rentang usia 30-an, hidup itu rasanya seperti berada di tengah konser musik satu sisi telinga mendengar suara motivator yang teriak, "Kejarlah passion-mu sampai ke ujung dunia!", tapi sisi telinga satunya mendengar bunyi perut keroncongan dan notifikasi tagihan yang nggak bisa dibayar pakai "semangat membara".


Kita sering dipaksa memilih Hidup untuk makan, atau hidup untuk mimpi?

1. Realitas Passion Itu Butuh Bahan Bakar

Banyak yang bilang, "Kalau kamu melakukan apa yang kamu cintai, kamu nggak akan merasa bekerja seumur hidup." Kedengarannya indah ya? Tapi mereka lupa kasih tahu kalau passion itu butuh kuota internet, butuh ongkos bensin, dan butuh asupan nasi padang biar nggak pingsan pas lagi berkarya.

Mari jujur Perut yang lapar adalah musuh terbesar dari kreativitas. Susah mau mikirin ide-ide brilian atau karya seni estetik kalau di kepala isinya cuma bayangan sisa saldo ATM yang tinggal dua digit dan bau mi instan di akhir bulan.

2. Filosofi Gaji Itu Jangkar, Passion Itu Layar

Gaji adalah bentuk tanggung jawab kita pada realitas. Dia adalah jangkar yang menjaga kita tetap stabil di tengah badai kebutuhan ekonomi. Sementara passion adalah layar yang membuat kapal hidup kita punya arah untuk berlayar.

Sebenarnya passion saya adalah jadi sultan yang kerjanya cuma unboxing paket dan keliling dunia. Tapi apa daya, takdir berkata lain. Server pusat sepertinya lagi error pas mau kirim kekayaan, jadi sementara ini saya harus berdamai dulu jadi Admin TU yang berteman akrab dengan kertas dan stempel. Gak apa-apa, yang penting stempelnya nggak bikin dompet saya stempel "kosong".

3. Pesan Fondasi Bukanlah Pengkhianatan

Jangan pernah merasa gagal kalau hari ini kamu harus bekerja di bidang yang "nggak kamu banget" demi upah yang layak. Jangan merasa jadi pengkhianat mimpi karena kamu lebih milih gaji tetap daripada jadi seniman yang bayarannya cuma "terima kasih" dan "nanti saya tag di Instagram".

Anggap saja pekerjaanmu sekarang adalah sponsor utama untuk mimpimu. Rumah impian yang paling indah sekalipun tidak bisa dibangun hanya di atas angan-angan; ia butuh semen dan batu bata yang nyata. Dan semen itu harganya mahal, kawan. Gaji itulah yang membelinya.

4. Strategi Bertahan Hidup: Main Dua Kaki

Kamu nggak harus membuang salah satu. Kamu bisa menapak bumi sambil tetap menatap langit. Caranya?

  • Jadikan Gaji sebagai Modal: Anggap pekerjaanmu adalah investor yang mendanai hobi dan mimpimu.
  • Passion Setelah Absen Pulang: Gunakan sisa energi setelah jam kerja untuk mimpimu. Memang capek, tapi itu lebih baik daripada mimpimu mati karena nggak punya modal.
  • Berhenti Membandingkan: Jangan baper liat teman di sosmed yang sepertinya "hidup dari passion". Kita nggak tahu apakah mereka punya tabungan tujuh turunan atau memang sedang menanggung utang yang nggak diposting.

Cintailah mimpimu setinggi langit, tapi hargailah caramu bertahan hidup hari ini. Tidak ada yang memalukan dari bekerja demi uang. Yang memalukan adalah mengejar mimpi setinggi langit tapi masih minta uang jajan sama orang tua di usia 30 tahun.

Menapaklah dengan kuat di bumi, cari pijakan yang solid, baru setelah itu kamu punya tenaga untuk melompat meraih bintang. Ingat, astronot saja butuh oksigen buat sampai ke bulan, dan oksigen itu dibeli pakai anggaran yang pasti, bukan pakai "angan-angan".

SepwaL
SepwaL Suka Mempelajari hal baru, Menulis, dan melakukan sesuatu yang berkaitan dengan Dunia Teknologi
Posting Komentar
Kode Iklan Tengah 1
Kode Iklan Tengah 2
Kode Iklan Bawah
Teks Footer