Dilamar

"Bagai tersambar petir di siang hari yang sedang terik, Fadil terdiam beberapa saat sebelum mencoba tersenyum dan berpura-pura antusias "

4 min read

Dani dan Riris duduk berhadapan di sudut kafe yang nyaman, dikelilingi oleh suasana hangat dengan pencahayaan yang lembut dan aroma kopi yang baru diseduh. Dindingnya dihiasi dengan karya seni yang indah, dan para pengunjung terlihat menikmati makanan dan kebersamaan mereka satu sama lain.


Dani duduk dengan gugup di meja bundar kecil di kafe yang nyaman itu, memutar-mutar sehelai rambutnya dengan jari-jarinya sambil melirik ke arah Riris, kekasihnya.


“Aku ingin bicara sesuatu,” kata Dani.


“Katakan, Sayang. Jangan membuatku menunggu terlalu lama,” balas Riris seolah tak sabar.

dilamar


Dani menyeruput kopinya, mencoba menenangkan kegelisahannya, namun rasa pahitnya hanya menambah kegelisahannya.


Rasa kopi yang tersisa di lidahnya bercampur dengan rasa gugup di perutnya, membuatnya tidak yakin apakah dia bisa bicara lebih jauh.


Obrolan pelan para pengunjung kafe lainnya berpadu dengan alunan musik yang lembut, tenggelam oleh suara detak jantung Dani yang berdegup kencang hingga lelaki itu dapat mendengar suara detak jantungnya sendiri.


Tangan Dani berkeringat menyentuh permukaan halus kotak cincin pertunangan di sakunya, kakinya memantul-mantul dengan cemas di bawah meja.


Dani menggenggam tangan Riris dengan erat, matanya menatap dalam ke arah mata Riris yang penuh cinta.


“Ris, sejak pertama kali kita bertemu, aku tahu bahwa kau adalah wanita yang istimewa bagiku. Kecantikanmu menawan, kepribadianmu yang hangat dan penuh kasih sayang selalu membuatku merasa bahagia dan dicintai,” kata Dani pelan.


“Sebenarnya kamu mau ngomong apa sih, Sayang?” Riris makin penasaran dibuatnya.


Ketika tangan kirinya menggenggam jemari Riris, tangan kanan Dani meraba saku kanannya dan mengambil kotak beludru berwarna merah. Dani menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dari sakunya. Dia membuka kotak itu dengan perlahan, memperlihatkan cincin berlian berkilau yang berkilauan di bawah cahaya matahari yang menerobos di sela-sela dinding kafe yang terbuat dari anyaman bambu.


“Riris, aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Hanya kita berdua dan anak-anak kita yang lucu,” kata Dani sambil tersenyum manis, meskipun keringat dingin menghiasi wajahnya yang putih, bersih, dan tampan.


“Riris Zahrany, maukah kau menikah denganku?” lanjutnya.


Riris terdiam sejenak, matanya mulai berkaca-kaca. Dia menatap cincin berlian itu dengan penuh rasa haru.


Riris tergagap karena kata-katanya tidak bisa keluar. Dia menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat dan air matanya mulai mengalir.


“Ya, Sayang! Aku mau menikah denganmu!”


Setelah mendengar jawaban itu, akhirnya Dani memasangkan cincin di jari manis Riris. Mereka berdua terlihat sangat bahagia dengan apa yamg terjadi saat ini.


“Sayang jadi kapan aku bisa ke rumah dan ketemu sama keluarga kamu,” tanya Dani pada Riris.


“Nanti aku tanyain dulu ya, Sayang, sama orang tuaku, takutnya mereka sibuk.” Riris bicara sambil terus mengelus cincin yang baru saja tersemat di jarinya dengan wajah yang terlihat sangat senang.


"Oke, deh. Yang penting nanti kamu langsung kabarin aku ya,” pinta Dani.


“Ya pasti, dong,” jawab Riris lagi. 


Kemudian keduanya melanjutkam menikmati steak yang dipesan tadi setelah terjeda.

*

Kini Riris kembali ke sekolah tempatnya mengajar dan menemui Fadil, sahabat karibnya. Dengan penuh suka cita, gadis yang baru saja diikat oleh sang kekasih menunjukkan cincin yang baru saja tersemat di jari manisnya dengan melambaikan tangan pada sahabatnya itu. Fadil kini sedang duduk di depan ruang TU dan Riris menghampirinya lalu duduk berdempet dengan lelaki itu.


“Hai, Fadil!” sapa Riris pada sang sahabat dengan senyum yang menghiasi bingkai bibirnya


“Hai, Ris! Kamu dari mana?” tanya Fadil antusias.


Tanpa menjawab, Riris menunjukkan punggung tangannya sambil tersenyum.


Sebenarnya Fadil tahu apa yang sedang dilakukan oleh Riris, tetapi lelaki itu masih berpura-pura bingung. “Kamu ngapain sih?” tanya Fadil.


“Ih, kamu nih ga peka,” keluh Riris sambil memonyongkan bibirnya dan marahnya gadis ini malah terlihat menggemaskan.


“Ya makanya kamu ngomong,” kata Fadil lagi.


“Ini loh, masa kamu nggak lihat cincin secantik ini,” ketus Riris sambil menunjukkan jarinya lagi.


“Oh, itu. Ya tau, bagus cincinnya. Kamu beli di mana?” tanya Fadil polos.


“Enggak beli, Fadil …,” geram Riris.


“Hah! Jangan bilang kalau kamu abis nyolong itu barusan,” ejek Fadil dengan sengaja, padahal lelaki itu jelas tau jika itu kemungkinan besar diberi oleh Dani.


“Fadil! Ya kali, manusia cantik dan imut kaya aku malah nyolong cincin, mau dikemanain mukaku?” balas Riris kesal.


“Gampang, tinggal tutupin kresek item aja udah. Aman,” ejek Fadil lagi.


“Ih, kamu tuh nggak asyik!” Riris geram akhirnya dia memilih bangkit dan hendak pergi dari sana.


Namun, belum sepenuhnya Riris bangkit, tangan gadis itu sudah berada dalam genggaman Fadil. “Iya, maafin aku ya, bercandanya bikin kamu kesel,”


Riris memalingkan wajahnya dari Fadil. Gadis itu ingin dibujuk lebih jauh.


“Itu kamu dapet dari mana cincinnya, kelihatan bagus banget, kamu juga kaya seneng banget,” lanjut Fadil mulai membujuk sahabat yang diam-diam dicintainya sambil memaksa untuk memalingkan wajah Riris agar menghadap ke arahnya.


Riris langsung tersenyum lagi setelah diperlakukan seperti itu. Matanya berbinar kembali dan langsung antusias menunjukkan cincinnya lagi.


“Ini tuh dari Dani. Dia ngelamar aku tadi, terus secepatnya mau ke rumah. Aku seneng banget tau!” kata Riris dengan antusiasnya yang sangat tinggi.

Deg!


Bagai tersambar petir di siang hari yang sedang terik, Fadil terdiam beberapa saat sebelum mencoba tersenyum dan berpura-pura antusias dan senang tentang hal yang amat sangat menyakitinya itu.


“Wah bagus dong! Bentar lagi sahabatku yang imut dan lucu ini bakal jadi istri orang. Duh! Aku masih boleh main bareng ga ya,” kata Fadil sambil mengembangkan senyum terlebar yang dia bisa.


“Ya udah kamu cari istri aja, biar bisa main bareng sekalian istrimu juga,” jawab Riris dengan amat antusias dan senyum yang berkembang terus menerus.


“Ide bagus.”


“Ya udah deh ya, kalau gitu. Aku duluan, mau lanjut ngajar jam terakhir. Bye, Fadil!” kata Riris yang kemudian pergi begitu saja.


Sementara itu Fadil masih termenung di tempat yang sama dan menatap punggung Riris hingga menjauh dan hilang dari pandangan.


Dadanya terasa begitu sesak mendengar hal yang selama ini dia takutkan, tetapi untuk mengutarakan rasa cintanya pada Riris juga adalah suatu hal yang mustahil.


“Sabar, Dil. Kadang harapan kita jauh dari kenyataan yang kita terima. Aku pernah berada di posisimu, sakit memang, tetapi nyatanya aku masih bisa bernapas meski tidak bersama dengan orang yang aku cintai,” kata seseorang yang tiba-tiba mendekatinya.


Fadil menghela napas kasar. “Ya, sayangnya aku hanya bernapas, tapi tidak hidup.”


Posting Komentar