Seni Menjawab Kapan? dengan Muka Datar ala Marcus Aurelius

SepwaL 4 min read

Dalam kalender administrasi hidup, tidak ada musim yang lebih horor daripada musim kondangan. Bagi pria yang sedang di usia kepala tiga dan masih betah menyendiri, gedung pernikahan bukan lagi tempat untuk merayakan kebahagiaan orang lain, melainkan sebuah arena interogasi tanpa pengacara.


Senjatanya selalu sama, sebuah pertanyaan pendek yang daya ledaknya lebih besar dari bom atom Kapan nyusul?

Mulut Mereka vs Telinga Saya

Sebagai penganut Stoikisme amatir, hal pertama yang saya lakukan saat pertanyaan itu meluncur adalah mengingat ajaran Marcus Aurelius. Intinya sederhana Ada hal yang bisa kita kendalikan, dan ada yang tidak.

Mulut Tante saya yang bertanya Kapan? itu berada di luar kendali saya. Saya tidak bisa memblokir mulutnya seperti saya memblokir situs berbahaya di kantor. Tapi, respon saya sepenuhnya ada dalam kendali saya. Jadi, alih-alih panik atau baper, saya memilih untuk memasang wajah Default Mode muka datar nan tenang seperti monitor komputer yang sedang standby.

Menjawab dengan Logika Sistem Sedang Maintenance

Saat pertanyaan Kapan nyusul? itu datang, saya tidak lagi memberikan jawaban emosional seperti Nanti kalau sudah ada jodohnya. Itu terlalu lemah. Saya lebih suka menjawab dengan istilah teknis yang bikin mereka bingung sendiri.

Sabar, Tante. Datanya sudah masuk, tapi saat ini server takdir lagi overload. Masih dalam tahap sinkronisasi dengan pusat. Kalau dipaksa sekarang, takutnya sistemnya malah crash di tengah jalan.

Biasanya, setelah mendengar istilah server dan sinkronisasi, tantesaya akan terdiam sebentar, lalu beralih membahas harga beras. Kebingungan mereka adalah kemenangan kecil bagi ketenangan batin saya.

Kopi Hitam dan Surya sebagai Shield (Perisai)

Di tengah kepungan pertanyaan Kapan punya gandengan?, saya selalu memastikan tangan kanan saya memegang gelas kopi hitam dan tangan kiri memegang sebatang Surya. Ini bukan cuma soal hobi, tapi soal strategi pertahanan.

Ketika ada paman yang mulai mendekat dengan tatapan ingin menjodohkan, saya segera menyesap kopi hitam saya dengan sangat lambat. Seolah-olah rasa pahit kopi itu adalah refleksi dari perjuangan hidup yang tidak mereka pahami.

Jika mereka tetap memaksa, saya akan menghembuskan asap Surya tipis-tipis ke udara, menciptakan barikade visual yang menandakan bahwa saya sedang berada di zona privasi yang tidak bisa diganggu gugat.

Mencintai Takdir sebagai Stok Lama

Banyak orang merasa malu dianggap stok lama atau berkas yang belum laku. Tapi bagi saya, ini adalah bentuk mencintai takdir. Saya lebih baik menjadi berkas lama yang terjaga kualitasnya daripada menjadi berkas baru yang buru-buru di-input tapi isinya penuh kesalahan.

Saya sering curhat ke diri sendiri saat bercermin: "Sepwal, kamu adalah admin bagi hidupmu sendiri. Jangan biarkan orang lain yang memegang stempel pengesahan atas kebahagiaanmu.  Lagipula, menjadi lajang di usia menuju 30 itu bukan cacat produksi, itu cuma tanda kalau saya sedang dipersiapkan untuk edisi yang lebih spesial.

Tetap Kalem, Tetap Admin

Menghadapi pertanyaan Kapan? itu butuh keahlian khusus yang lebih tinggi dari sekadar input data. Butuh mental baja dan muka yang sudah teruji oleh ribuan komplain pelanggan.

Jadi, kalau nanti kamu ketemu saya di kondangan dan saya cuma senyum datar sambil asyik ngopi sendirian, ketahuilah bahwa saya sedang mempraktikkan seni hidup Stoik. Saya tidak sedang kesepian, saya cuma sedang menikmati masa tenang sebelum sistem semesta benar-benar memberikan notifikasi

 Jodoh Found. Proceed to Marriage?

[YES/NO].

Dan sampai hari itu tiba, jawaban saya tetap sama: "Maaf, sistem sedang sibuk. Mohon coba beberapa tahun lagi."

 

 

SepwaL
SepwaL Suka Mempelajari hal baru, Menulis, dan melakukan sesuatu yang berkaitan dengan Dunia Teknologi
Posting Komentar