Seni Menjawab Kapan? dengan Muka Datar ala Marcus Aurelius
Dalam kalender administrasi hidup, tidak ada musim yang lebih horor daripada musim kondangan. Bagi pria yang sedang di usia kepala tiga dan masih betah menyendiri, gedung pernikahan bukan lagi tempat untuk merayakan kebahagiaan orang lain, melainkan sebuah arena interogasi tanpa pengacara.
Senjatanya
selalu sama, sebuah pertanyaan pendek yang daya ledaknya lebih besar dari bom
atom Kapan nyusul?
Mulut Mereka
vs Telinga Saya
Sebagai
penganut Stoikisme amatir, hal
pertama yang saya lakukan saat pertanyaan itu meluncur adalah mengingat ajaran
Marcus Aurelius. Intinya sederhana Ada hal yang bisa kita kendalikan, dan ada
yang tidak.
Mulut
Tante saya yang bertanya Kapan? itu berada di luar kendali saya. Saya tidak
bisa memblokir mulutnya seperti saya memblokir situs berbahaya di kantor. Tapi,
respon saya sepenuhnya ada
dalam kendali saya. Jadi, alih-alih panik atau baper, saya memilih untuk memasang
wajah Default Mode muka datar nan
tenang seperti monitor komputer yang sedang standby.
Menjawab
dengan Logika Sistem Sedang Maintenance
Saat
pertanyaan Kapan nyusul? itu datang,
saya tidak lagi memberikan jawaban emosional seperti Nanti kalau sudah ada jodohnya. Itu terlalu lemah. Saya lebih suka
menjawab dengan istilah teknis yang bikin mereka bingung sendiri.
Sabar, Tante.
Datanya sudah masuk, tapi saat ini server takdir lagi overload. Masih dalam
tahap sinkronisasi dengan pusat. Kalau dipaksa sekarang, takutnya sistemnya
malah crash di tengah jalan.
Biasanya,
setelah mendengar istilah server dan sinkronisasi, tantesaya akan terdiam
sebentar, lalu beralih membahas harga beras. Kebingungan mereka adalah
kemenangan kecil bagi ketenangan batin saya.
Kopi Hitam dan
Surya sebagai Shield (Perisai)
Di tengah
kepungan pertanyaan Kapan punya
gandengan?, saya selalu memastikan tangan kanan saya memegang gelas kopi hitam dan tangan kiri
memegang sebatang Surya. Ini
bukan cuma soal hobi, tapi soal strategi pertahanan.
Ketika
ada paman yang mulai mendekat dengan tatapan ingin menjodohkan, saya segera
menyesap kopi hitam saya dengan sangat lambat. Seolah-olah rasa pahit kopi itu
adalah refleksi dari perjuangan hidup yang tidak mereka pahami.
Jika
mereka tetap memaksa, saya akan menghembuskan asap Surya tipis-tipis ke udara,
menciptakan barikade visual yang menandakan bahwa saya sedang berada di zona privasi yang tidak bisa diganggu
gugat.
Mencintai
Takdir sebagai Stok Lama
Banyak orang
merasa malu dianggap stok lama atau
berkas yang belum laku. Tapi bagi saya, ini adalah bentuk mencintai takdir.
Saya lebih baik menjadi berkas lama yang terjaga kualitasnya daripada menjadi berkas baru yang buru-buru di-input tapi
isinya penuh kesalahan.
Saya
sering curhat ke diri sendiri saat bercermin: "Sepwal, kamu adalah admin bagi hidupmu sendiri.
Jangan biarkan orang lain yang memegang stempel pengesahan atas kebahagiaanmu. Lagipula, menjadi lajang di usia menuju 30 itu
bukan cacat produksi, itu cuma tanda kalau saya sedang dipersiapkan untuk edisi
yang lebih spesial.
Tetap Kalem,
Tetap Admin
Menghadapi
pertanyaan Kapan? itu butuh keahlian khusus yang lebih tinggi dari sekadar
input data. Butuh mental baja dan muka yang sudah teruji oleh ribuan komplain
pelanggan.
Jadi,
kalau nanti kamu ketemu saya di kondangan dan saya cuma senyum datar sambil
asyik ngopi sendirian, ketahuilah bahwa saya sedang mempraktikkan seni hidup
Stoik. Saya tidak sedang kesepian, saya cuma sedang menikmati masa tenang sebelum sistem semesta benar-benar
memberikan notifikasi
Jodoh Found. Proceed to Marriage?
[YES/NO].
Dan
sampai hari itu tiba, jawaban saya tetap sama: "Maaf, sistem sedang sibuk. Mohon coba beberapa
tahun lagi."
