S.Kom di Balik Meja TU: Transformasi Digital dan Seni Menjaga Ketenangan di Sekolah

"Jadi Admin TU dengan gelar S.Kom di SMAN 17 Bulukumba itu unik! Simak suka duka, tips Stoikisme, dan tantangan digitalisasi sekolah ala @catatanadmint"

SepwaL 6 min read

Banyak orang bilang, gelar S.Kom (Sarjana Komputer) adalah tiket emas menuju masa depan cerah di gedung pencakar langit, menjadi software engineer yang gajinya dua digit, atau setidaknya punya kantor dengan pantry penuh sereal gratis. Tapi di sini saya, duduk manis di balik meja Tata Usaha (TU), ditemani tumpukan berkas yang tingginya hampir menyaingi ambisi saya saat kuliah dulu.


Sejujurnya, menjadi seorang Admin TU dengan gelar S.Kom itu rasanya seperti membawa mesin Ferrari untuk membajak sawah. Sangat powerful, tapi sering bikin bingung kerbau di sekitarnya.

1. Gelar S.Kom: Spesialis Segala yang Ada Kabelnya

Empat tahun saya kuliah belajar struktur data, algoritma yang bikin otak keriting, sampai menangis darah mengerjakan skripsi. Ekspektasi saya? Membangun sistem keamanan siber yang tak tertembus. Realita di sekolah? Saya adalah "Dewa Kabel".

Di mata penghuni sekolah, S.Kom itu singkatan dari "Spesialis Kompor, Kipas, dan Komputer". Tidak jarang saya dipanggil bukan untuk memperbaiki database yang corrupt, melainkan karena remote Kipas yang mati, printer yang bunyi krek-krek seolah sedang kerasukan jin, sampai urusan TV ruang guru yang tidak ada suaranya.

"Kak Sepwal, ini printernya macet lagi," kata seorang rekan kerja dengan wajah tanpa dosa. Saya datang, melihat tumpukan kertas yang nyangkut karena dipaksa mencetak 100 lembar sekaligus oleh printer yang umurnya lebih tua dari karir saya. Di saat itulah saya sadar, skill paling berguna bukan coding Python, melainkan teknik menarik kertas pelan-pelan tanpa merusak roller printer. Sebuah seni yang tidak diajarkan di semester mana pun.

2. Musuh Terbesar: Lingkaran Kematian yang Berputar

Dunia IT itu logis. Jika $A + B$, hasilnya $C$. Tapi di dunia administrasi sekolah, logikanya seringkali melompat-lompat seperti pemain Mobile Legends yang sedang lag. Musuh terbesar saya bukan hacker dari Rusia, melainkan satu kata keramat: SINKRONISASI.

Bayangkan, saya sudah merapikan ribuan data siswa, memasukkan angka-angka dengan presisi seorang akuntan, lalu saat klik tombol 'Kirim', muncullah dia: Lingkaran Kematian (Loading). Dia berputar, berputar, dan terus berputar seolah sedang mengejek gelar sarjana saya.

Dalam situasi ini, logika pemrograman saya tidak berguna. Solusi teknis terbaik yang saya miliki adalah Logika Re-Kopi. Ya, ambil segelas Kopi Hitam, nyalakan sebatang Surya, lalu tatap layar monitor dengan tatapan kosong selama 15 menit. Ajaibnya, kadang-kadang setelah kopinya habis, sistemnya jalan sendiri. Sepertinya server pusat pun tahu kalau saya butuh istirahat.

3. Stoikisme di Tengah Badai Legalisir

Untungnya, di tengah kekacauan birokrasi ini, saya memeluk filosofi Stoikisme. Filosofi ini adalah tameng saya saat harus menghadapi "serangan" mendadak. Misalnya, saat jam pulang tinggal lima menit lagi, tiba-tiba ada alumni datang minta legalisir ijazah sebanyak 20 rangkap untuk dibawa merantau besok pagi.

Dulu, mungkin saya akan mengeluh dalam hati. Sekarang? Saya mempraktikkan Dikotomi Kendali.

·         Di luar kendali: Alumni yang datang di jam kritis.

·         Di bawah kendali: Cara saya memegang stempel basah dengan anggun dan presisi.

Saya ingat prinsip Amor Fati—cintai takdirmu. Termasuk takdir harus menempelkan jari pada bak stempel sampai berwarna ungu permanen seperti baru selesai ikut Pemilu. Saya anggap saja itu sebagai tato temporer bukti pengabdian sebagai Tenaga Administrasi. Menertawakan diri sendiri yang sedang berjuang dengan tinta adalah obat paling mujarab agar tidak cepat tua di usia 27 tahun ini.

4. Digitalisasi Senyap di Tengah Tumpukan Kertas

Meski sering merasa seperti teknisi serba bisa, jiwa S.Kom saya tetap meronta ingin melakukan perubahan. Pelan-pelan, saya mulai menyelipkan efisiensi. Yang tadinya semua harus pakai kertas manual dan antre panjang, saya buatkan format digital sederhana. Saya tunjukkan bahwa teknologi itu bukan untuk gaya-gayaan, tapi untuk bikin hidup mereka—dan hidup saya—lebih mudah.

Tentu saja, proses ini tidak mudah. Menjelaskan cara kerja sistem baru kepada rekan kerja senior yang lebih suka menulis di buku besar itu tantangannya setara dengan menjelaskan teori relativitas kepada kucing. Tapi di situlah letak seninya. Transformasi digital di sekolah bukan soal aplikasi canggih bin mahal, tapi soal kesabaran tingkat dewa untuk membimbing orang-orang agar tidak takut memencet tombol 'Enter'.

5. Penutup: Admin TU Juga Berhak Bahagia

Bekerja di TU mengajarkan saya satu hal penting: Gelar S.Kom bukan cuma soal bisa bikin aplikasi keren, tapi soal bagaimana kita memberikan solusi di dunia nyata bahkan jika solusinya cuma sekadar mencabut dan memasang kembali kabel power printer yang ternyata longgar.

Jadi, kalau kalian mampir ke ruang TU dan melihat pria muda sedang serius menatap monitor sambil sesekali menghela napas panjang, jangan dikira saya sedang meretas situs NASA. Saya hanya sedang mencoba bertahan hidup di antara tumpukan berkas dan sistem yang sedang maintenance.

Jika kalian ingin melihat visual dari "penderitaan" estetis saya, langsung saja mampir ke TikTok @catatanadmintu. Di sana, semua drama admin sekolah ini saya jadikan konten agar kita bisa tertawa bersama. Karena kalau tidak ditertawakan, pekerjaan ini mungkin sudah bikin saya gila sejak tahun pertama.

Tetap tenang, tetap ngopi, dan ingat: Sistem boleh error, tapi mental jangan

SepwaL
SepwaL Suka Mempelajari hal baru, Menulis, dan melakukan sesuatu yang berkaitan dengan Dunia Teknologi
Posting Komentar