S.Kom di Balik Meja TU: Transformasi Digital dan Seni Menjaga Ketenangan di Sekolah
"Jadi Admin TU dengan gelar S.Kom di SMAN 17 Bulukumba itu unik! Simak suka duka, tips Stoikisme, dan tantangan digitalisasi sekolah ala @catatanadmint"
Banyak orang bilang, gelar S.Kom (Sarjana Komputer) adalah tiket emas menuju masa depan cerah di gedung pencakar langit, menjadi software engineer yang gajinya dua digit, atau setidaknya punya kantor dengan pantry penuh sereal gratis. Tapi di sini saya, duduk manis di balik meja Tata Usaha (TU), ditemani tumpukan berkas yang tingginya hampir menyaingi ambisi saya saat kuliah dulu.
Sejujurnya,
menjadi seorang Admin TU dengan gelar S.Kom itu rasanya seperti membawa mesin
Ferrari untuk membajak sawah. Sangat powerful, tapi sering bikin bingung kerbau di
sekitarnya.
1. Gelar S.Kom: Spesialis
Segala yang Ada Kabelnya
Empat tahun saya kuliah belajar
struktur data, algoritma yang bikin otak keriting, sampai menangis darah
mengerjakan skripsi. Ekspektasi saya? Membangun sistem keamanan siber yang tak
tertembus. Realita di sekolah? Saya adalah "Dewa Kabel".
Di
mata penghuni sekolah, S.Kom itu singkatan dari "Spesialis Kompor, Kipas, dan Komputer".
Tidak jarang saya dipanggil bukan untuk memperbaiki database yang corrupt, melainkan karena remote Kipas yang mati,
printer yang bunyi krek-krek
seolah sedang kerasukan jin, sampai urusan TV ruang guru yang tidak ada
suaranya.
"Kak
Sepwal, ini printernya macet lagi," kata seorang rekan kerja dengan wajah
tanpa dosa. Saya datang, melihat tumpukan kertas yang nyangkut karena dipaksa
mencetak 100 lembar sekaligus oleh printer yang umurnya lebih tua dari karir
saya. Di saat itulah saya sadar, skill
paling berguna bukan coding
Python, melainkan teknik menarik kertas pelan-pelan tanpa merusak roller printer. Sebuah seni yang
tidak diajarkan di semester mana pun.
2. Musuh Terbesar: Lingkaran Kematian
yang Berputar
Dunia IT itu logis. Jika $A + B$,
hasilnya $C$.
Tapi di dunia administrasi sekolah, logikanya seringkali melompat-lompat
seperti pemain Mobile Legends
yang sedang lag. Musuh
terbesar saya bukan hacker dari
Rusia, melainkan satu kata keramat: SINKRONISASI.
Bayangkan,
saya sudah merapikan ribuan data siswa, memasukkan angka-angka dengan presisi
seorang akuntan, lalu saat klik tombol 'Kirim', muncullah dia: Lingkaran Kematian (Loading).
Dia berputar, berputar, dan terus berputar seolah sedang mengejek gelar sarjana
saya.
Dalam
situasi ini, logika pemrograman saya tidak berguna. Solusi teknis terbaik yang
saya miliki adalah Logika
Re-Kopi. Ya, ambil segelas Kopi
Hitam, nyalakan sebatang Surya,
lalu tatap layar monitor dengan tatapan kosong selama 15 menit. Ajaibnya,
kadang-kadang setelah kopinya habis, sistemnya jalan sendiri. Sepertinya server
pusat pun tahu kalau saya butuh istirahat.
3. Stoikisme di Tengah Badai
Legalisir
Untungnya, di tengah kekacauan
birokrasi ini, saya memeluk filosofi Stoikisme. Filosofi ini adalah tameng saya saat harus
menghadapi "serangan" mendadak. Misalnya, saat jam pulang tinggal
lima menit lagi, tiba-tiba ada alumni datang minta legalisir ijazah sebanyak 20
rangkap untuk dibawa merantau besok pagi.
Dulu,
mungkin saya akan mengeluh dalam hati. Sekarang? Saya mempraktikkan Dikotomi Kendali.
·
Di
luar kendali:
Alumni yang datang di jam kritis.
·
Di
bawah kendali:
Cara saya memegang stempel basah dengan anggun dan presisi.
Saya
ingat prinsip Amor Fati—cintai
takdirmu. Termasuk takdir harus menempelkan jari pada bak stempel sampai
berwarna ungu permanen seperti baru selesai ikut Pemilu. Saya anggap saja itu
sebagai tato temporer bukti pengabdian sebagai Tenaga Administrasi. Menertawakan
diri sendiri yang sedang berjuang dengan tinta adalah obat paling mujarab agar
tidak cepat tua di usia 27 tahun ini.
4. Digitalisasi Senyap di
Tengah Tumpukan Kertas
Meski sering merasa seperti
teknisi serba bisa, jiwa S.Kom saya tetap meronta ingin melakukan perubahan.
Pelan-pelan, saya mulai menyelipkan efisiensi. Yang tadinya semua harus pakai
kertas manual dan antre panjang, saya buatkan format digital sederhana. Saya
tunjukkan bahwa teknologi itu bukan untuk gaya-gayaan, tapi untuk bikin hidup
mereka—dan hidup saya—lebih mudah.
Tentu
saja, proses ini tidak mudah. Menjelaskan cara kerja sistem baru kepada rekan
kerja senior yang lebih suka menulis di buku besar itu tantangannya setara
dengan menjelaskan teori relativitas kepada kucing. Tapi di situlah letak
seninya. Transformasi digital di sekolah bukan soal aplikasi canggih bin mahal,
tapi soal kesabaran tingkat dewa untuk membimbing orang-orang agar tidak takut
memencet tombol 'Enter'.
5. Penutup: Admin TU Juga
Berhak Bahagia
Bekerja di TU mengajarkan saya
satu hal penting: Gelar S.Kom bukan cuma soal bisa bikin aplikasi keren, tapi
soal bagaimana kita memberikan solusi di dunia nyata bahkan jika solusinya cuma
sekadar mencabut dan memasang kembali kabel power printer yang ternyata longgar.
Jadi,
kalau kalian mampir ke ruang TU dan melihat pria muda sedang serius menatap
monitor sambil sesekali menghela napas panjang, jangan dikira saya sedang
meretas situs NASA. Saya hanya sedang mencoba bertahan hidup di antara tumpukan
berkas dan sistem yang sedang maintenance.
Jika
kalian ingin melihat visual dari "penderitaan" estetis saya, langsung
saja mampir ke TikTok @catatanadmintu.
Di sana, semua drama admin sekolah ini saya jadikan konten agar kita bisa
tertawa bersama. Karena kalau tidak ditertawakan, pekerjaan ini mungkin sudah
bikin saya gila sejak tahun pertama.
Tetap
tenang, tetap ngopi, dan ingat: Sistem
boleh error, tapi mental jangan
